Nasional

Trump Klaim Pasukan Elite AS Tangkap Presiden Nicolas Maduro di Venezuela, Didakwa Narkoterorisme

Amerika Serikat (AS) kembali mengguncang panggung geopolitik internasional setelah melancarkan serangan militer ke Venezuela pada Sabtu (3/1) dini hari. Operasi militer ini berujung pada penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS, memicu kecaman keras dari pemerintah Venezuela dan reaksi beragam dari komunitas global.

Serangan yang dilaporkan terjadi di berbagai lokasi di ibu kota Caracas serta beberapa negara bagian lainnya ini, menurut pantauan Mureks, telah memicu gelombang reaksi diplomatik dan politik. Pemerintah Venezuela menuduh AS melanggar hukum internasional, sementara berbagai negara dan lembaga menyerukan penahanan diri serta penghormatan terhadap Piagam PBB.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

AS Akui Serangan Militer dan Batasi Penerbangan

Amerika Serikat secara resmi mengakui telah melakukan serangan militer ke Venezuela. Ledakan dilaporkan terdengar di Caracas dan beberapa wilayah lain pada dini hari Sabtu (3/1), menyebabkan gangguan keamanan di ibu kota Venezuela. Otoritas setempat menyebut beberapa fasilitas, termasuk area militer dan pemerintahan, menjadi sasaran.

Selain serangan, AS juga mengeluarkan pembatasan penerbangan. Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) menerbitkan larangan bagi pesawat AS untuk beroperasi di wilayah udara Venezuela, menambah ketegangan di kawasan tersebut.

Venezuela Tuding AS Incar Minyak dan Mineral

Pemerintah Venezuela menuding serangan AS memiliki motif ekonomi, yakni merebut sumber daya strategis negara itu, khususnya minyak dan mineral. Serangan disebut menyasar infrastruktur penting di Caracas dan wilayah sekitarnya, yang dinilai sebagai upaya melemahkan kedaulatan negara.

“Tujuan serangan ini tidak lain adalah untuk merebut sumber daya strategis Venezuela, terutama minyak dan mineral,” demikian pernyataan pemerintah seperti dikutip dari keterangan pers Kedutaan Besar Venezuela di Indonesia, Sabtu (3/1). Venezuela menegaskan tidak akan tunduk terhadap tekanan militer dan politik dari AS.

Kecaman Keras Venezuela: Pelanggaran Piagam PBB dan Ancaman Perdamaian Global

Pemerintah Venezuela secara resmi mengecam serangan AS sebagai pelanggaran berat terhadap Piagam PBB. Serangan yang dilaporkan terjadi di Caracas, Miranda, Aragua, dan La Guaira tersebut dinilai membahayakan warga sipil.

“Republik Bolivarian Venezuela menolak, mengecam, dan mengutuk di hadapan komunitas internasional agresi militer yang sangat serius,” kata pernyataan resmi pemerintah Venezuela, menyerukan solidaritas global.

Lebih lanjut, Venezuela menyatakan akan menghadapi serangan AS dengan semangat perjuangan Simón Bolívar, menegaskan bahwa rakyat dan pemerintah sah Venezuela akan tetap teguh mempertahankan kedaulatan dan hak menentukan nasib sendiri. Menurut Mureks, intervensi asing ini dianggap sebagai ancaman serius terhadap perdamaian dan stabilitas internasional, berpotensi memperluas konflik di kawasan Amerika Latin dan Karibia. Venezuela mendesak PBB dan komunitas internasional mengambil sikap tegas.

Klaim Trump: Maduro Ditangkap Pasukan Delta Force

Presiden AS Donald Trump mengklaim pasukan elite AS Delta Force berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Trump menyebut operasi tersebut sebagai keberhasilan besar AS dalam menegakkan hukum.

“Presiden Maduro, yang bersama istrinya telah ditangkap dan diterbangkan keluar dari negara itu,” tulis Trump melalui media sosial Truth Social, dikutip dari CNN, Sabtu (3/1). Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima, untuk selanjutnya dibawa ke New York guna diadili atas sejumlah dakwaan.

Pemerintah Venezuela Tuntut Bukti Keberadaan Maduro

Di sisi lain, pemerintah Venezuela mengaku tidak mengetahui keberadaan Presiden Nicolas Maduro setelah klaim penangkapan oleh AS. Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez menyampaikan tuntutan agar AS menunjukkan bukti keberadaan Maduro, yang memperdalam ketegangan antara kedua negara.

“Kami menuntut bukti kehidupan segera dari Presiden Nicolás Maduro dan ibu negara Cilia Flores,” kata Delcy Rodriguez.

Fasilitas Minyak Venezuela Diklaim Tak Terdampak

Meskipun terjadi serangan militer, pemerintah Venezuela menyatakan fasilitas produksi dan pengolahan minyak tidak terdampak. Operasional kilang minyak dilaporkan tetap berjalan normal, menurut dua sumber yang mengetahui langsung operasi perusahaan energi negara, Petróleos de Venezuela, S.A. (PDVSA), dilansir Reuters.

Salah satu sumber menambahkan bahwa Pelabuhan La Guaira di dekat Caracas, salah satu pelabuhan terbesar Venezuela, memang mengalami kerusakan parah. Namun, pelabuhan tersebut bukan merupakan pelabuhan ekspor minyak utama.

AS Ungkap Deretan Dakwaan Terhadap Maduro

Jaksa Agung AS, Pam Bondi, mengungkapkan sejumlah dakwaan terhadap Presiden Nicolas Maduro. Dalam unggahannya di X pada Sabtu (3/1) waktu setempat, Bondi merinci dakwaan terhadap Maduro, meliputi Konspirasi Narkoterorisme, Konspirasi Impor Kokain, Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak, serta Konspirasi Kepemilikan Senapan Mesin dan Alat Perusak terhadap AS.

Trump kembali menegaskan bahwa Maduro dan istrinya akan dibawa ke New York untuk menjalani proses hukum di AS. “Maduro dan istrinya akan dibawa ke New York untuk menghadapi proses hukum,” kata Trump melalui Truth Social.

Kemlu RI Pastikan WNI Aman, Serukan Penghormatan Hukum Internasional

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) memastikan seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) di Venezuela dalam keadaan aman. Pemerintah Indonesia terus memantau situasi keamanan pascaserangan AS dan mengimbau para WNI untuk tetap waspada serta berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI).

Selain itu, Kemlu RI juga menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, menekankan pentingnya penyelesaian damai. “Indonesia menegaskan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional,” tulis Kemlu RI dalam pernyataannya.

Mureks