Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengklaim banyak warga Kuba tewas saat pasukan AS melancarkan serangan ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Menurut Trump, insiden ini terjadi lantaran Kuba sangat bergantung pada Venezuela.
Mureks mencatat bahwa kedua negara Amerika Latin tersebut telah lama menjadi sekutu dekat, sama-sama menganut ideologi komunis, dan menghadapi sanksi ekonomi dari Amerika Serikat.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Selama beberapa dekade terakhir, Kuba memang sangat bergantung pada Venezuela untuk dukungan ekonomi dan pasokan bahan bakar. Sebelum serangan AS pada Sabtu (3/1/2026), laporan media AS juga menyoroti ketergantungan Maduro pada penasihat dan pengawal asal Kuba.
Hingga saat ini, baik Venezuela maupun Amerika Serikat belum merilis angka resmi korban tewas akibat serangan yang berujung pada penangkapan Maduro tersebut. Namun, Trump menegaskan tidak ada warga AS yang kehilangan nyawa dalam operasi itu.
Dalam wawancara eksklusif dengan The New York Post usai konferensi pers mengenai serangan di Caracas, Trump secara spesifik menyebutkan, “Anda tahu, banyak warga Kuba kehilangan nyawa mereka tadi malam. Apakah Anda tahu itu? Banyak warga Kuba kehilangan nyawa mereka. Mereka melindungi Maduro. Itu bukan langkah yang baik.”
Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai jumlah pasti korban tewas. Ia hanya kembali menekankan bahwa Kuba sangat bergantung pada Venezuela.
“Kuba selalu sangat bergantung pada Venezuela. Dari sanalah mereka mendapatkan uang, dan mereka melindungi Venezuela, tetapi itu tidak berjalan dengan baik dalam kasus ini,” ujar Trump.
Presiden Trump juga melontarkan peringatan keras kepada Havana, ibu kota Kuba. Meski demikian, ia mengklaim tidak akan melancarkan serangan militer ke negara tersebut.
“Jika saya tinggal di Havana dan berada di pemerintahan, saya akan sedikit khawatir. Tidak (menyerang Kuba), Kuba akan runtuh dengan sendirinya. Kuba sedang dalam kondisi yang sangat buruk,” pungkas Trump.






