Internasional

Rusia dan China Bersatu Kecam Serangan AS ke Venezuela, Tuntut Pembebasan Presiden Maduro Segera

Rusia dan China secara tegas menolak tindakan Amerika Serikat (AS) yang menyerang Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro. Kedua negara adidaya tersebut, melalui pernyataan resmi pemerintah Presiden Vladimir Putin dan Presiden Xi Jinping, mengecam keras aksi yang mereka sebut “semena-mena” oleh Washington.

Reaksi Keras Moskow atas Agresi Bersenjata

Moskow segera mengeluarkan reaksi tajam setelah AS mengonfirmasi serangan terhadap Venezuela. Kementerian Luar Negeri Rusia menuduh Washington melakukan tindakan agresi bersenjata dan memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut dapat menimbulkan konsekuensi serius, baik di tingkat regional maupun global.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Rusia menolak pembenaran AS atas serangan tersebut, menegaskan bahwa diplomasi telah ditinggalkan demi “kekuatan”. Menurut Kementerian Luar Negeri Rusia, insiden ini bukan sekadar serangan terisolasi, melainkan preseden berbahaya yang mengancam stabilitas internasional.

“Sangat mengkhawatirkan dan pantas dikutuk,” kata Kemenlu Rusia, dikutip pada Senin (5/12/2025) dari sejumlah media asing, termasuk The Moskow Times dan NHK. “Sangat penting untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, dan fokus pada pencarian solusi melalui dialog.”

Rusia juga menyatakan solidaritas penuh dengan rakyat Venezuela, menekankan bahwa negara tersebut harus dijamin haknya untuk menentukan masa depannya sendiri tanpa campur tangan eksternal yang merusak, terutama yang bersifat militer. Mureks mencatat bahwa Rusia memiliki hubungan dekat dengan Venezuela, di mana pada Desember lalu, Presiden Putin bahkan melakukan pembicaraan telepon dengan Maduro, menegaskan kembali dukungannya terhadap kebijakan pemerintahannya.

Desakan Beijing untuk Pembebasan Maduro

Senada dengan Moskow, China mendesak AS untuk menghentikan apa yang disebutnya “penggulingan” pemerintah Venezuela. Pemerintah Presiden Xi Jinping juga menuntut pembebasan Presiden Maduro dan istrinya, Cilia Flores, secara segera.

“China menyerukan AS untuk memastikan keselamatan pribadi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya (Cilia Flores) segera membebaskan mereka, dan menghentikan upaya penggulingan pemerintah Venezuela,” demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri China, yang dimuat AFP. Beijing menambahkan, “Serangan itu sebagai pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.”

Kronologi Penangkapan Presiden Maduro

Sebelumnya, Presiden Maduro ditangkap oleh unit kontra-terorisme utama militer AS, Angkatan Darat AS Delta Force, pada Sabtu dini hari. Penangkapan ini dimungkinkan setelah sumber CIA di pemerintahan Venezuela membantu AS melacak lokasinya. Lebih dari 150 pesawat dikerahkan untuk membawa tim evakuasi ke ibu kota Venezuela.

Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump mengklaim tidak ada pasukan AS yang tewas dan hanya ada “sedikit” korban luka dalam operasi tersebut. Maduro dan istrinya kemudian dibawa ke atas kapal USS Iwo Jima, lalu dipindahkan ke pesawat yang mendarat di Pangkalan Garda Nasional Udara Stewart di negara bagian New York. Pasangan itu selanjutnya diangkut ke Pusat Penahanan Metropolitan, sebuah fasilitas federal di Brooklyn.

Para pejabat AS mengindikasikan bahwa serangan udara di sekitar Caracas digunakan sebagai kedok untuk operasi evakuasi. Sementara itu, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan di televisi pemerintah bahwa “sebagian besar” tim keamanan Maduro, bersama dengan tentara dan “warga sipil yang tidak bersalah”, tewas. Namun, Padrino tidak memberikan angka atau rincian lebih lanjut.

Pemerintah Venezuela sebelumnya menuduh AS menyerang beberapa daerah sipil dan sedang mengumpulkan data korban serta kematian, meskipun belum merilis angka resmi apa pun. Wakil Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, yang merupakan bagian dari lingkaran dalam Maduro, kini telah dilantik oleh Mahkamah Agung negara tersebut sebagai presiden sementara.

Mureks