Internasional

Israel Luncurkan Serangan Udara ke Lebanon Timur dan Selatan, Ketegangan Timur Tengah Memanas

Militer Israel (IDF) melancarkan serangkaian serangan udara ke wilayah Lebanon Timur dan Selatan pada Senin (5/1/2026). Aksi ini kembali memicu eskalasi ketegangan di Timur Tengah, terjadi di tengah upaya pemantauan gencatan senjata yang kian rapuh dan tekanan diplomatik besar dari Washington terhadap Beirut.

Target Infrastruktur Militer Hizbullah dan Hamas

IDF mengonfirmasi telah menargetkan infrastruktur militer milik Hizbullah dan Hamas. Serangan berfokus pada empat desa utama: Hammara dan Ain el-Tineh di Lembah Bekaa, serta Kfar Hatta dan Annan di wilayah selatan Lebanon.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Saksi mata dan fotografer AFP melaporkan kepanikan melanda desa Kfar Hatta. Puluhan keluarga bergegas melarikan diri sesaat setelah perintah evakuasi dikeluarkan oleh militer Israel. Drone militer terpantau aktif di udara, sementara ambulans dan pemadam kebakaran bersiaga tinggi di lokasi.

Kementerian Kesehatan Lebanon juga melaporkan serangan drone terhadap sebuah mobil di desa Braikeh, yang mengakibatkan dua orang terluka. Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota aktif Hezbollah. Insiden ini menyusul serangan mematikan pada hari Minggu di Ayn al-Mizrab yang menewaskan dua orang.

Gencatan Senjata yang Rapuh dan Peringatan PBB

Meskipun Amerika Serikat telah menengahi gencatan senjata pada akhir tahun 2024, situasi di lapangan menunjukkan kondisi yang berbeda. Israel terus melakukan pemboman rutin dan masih menduduki lima wilayah di Lebanon.

Laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada November lalu mengungkapkan fakta mengerikan: sedikitnya 127 warga sipil, termasuk anak-anak, telah tewas di Lebanon sejak gencatan senjata diberlakukan. Pejabat PBB bahkan memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan ini dapat dikategorikan sebagai “kejahatan perang.” Mureks mencatat bahwa angka korban sipil ini menunjukkan kerapuhan kesepakatan damai yang ada.

Analisis Eskalasi dan Strategi Baru Israel

Ali Rizk, seorang analis keamanan yang berbasis di Beirut, menilai eskalasi ini merupakan dampak langsung dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu. “Ada laporan bahwa Israel mendapat ‘lampu hijau’ untuk meningkatkan eskalasi terhadap Hezbollah,” ujar Rizk kepada Al Jazeera.

Rizk juga menyoroti strategi baru Israel yang mulai memasukkan nama Hamas sebagai target di Lebanon. Menurut Mureks, hal ini dinilai sebagai taktik untuk menekan pemerintah Lebanon agar tidak hanya melucuti senjata Hizbullah, tetapi juga kelompok anti-Israel lainnya yang berada di wilayah tersebut.

Situasi ini menempatkan pemerintah Lebanon dalam posisi sulit. AS dan Israel menuntut pelucutan senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani diselesaikan segera. Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan pada hari Minggu bahwa upaya pelucutan senjata yang dilakukan Lebanon saat ini “masih jauh dari cukup.”

Mureks