Industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) nasional menghadapi periode sulit sepanjang tahun 2025. Sektor ini dihantam berbagai tantangan, mulai dari persaingan harga ketat produk impor asal China, maraknya serbuan pakaian impor ilegal, hingga penurunan signifikan permintaan pasar domestik dan global. Kondisi ini, menurut Mureks, tak terhindarkan memicu tren Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan penutupan pabrik di berbagai daerah.
Direktur PT Wong Hang Bersaudara, Samuel Wongso, mengamini tekanan berat yang dialami bisnis sektor tekstil. Ia secara spesifik menyoroti dampak serbuan barang impor ilegal, termasuk masuknya pakaian bekas dari luar negeri, yang semakin memperparah kondisi industri dalam negeri.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Dukungan Kebijakan dan Masyarakat Mendesak
Para pengusaha garmen nasional sangat berharap adanya dukungan kebijakan konkret dari pemerintah untuk mengatasi persoalan serbuan barang impor, termasuk pakaian bekas ilegal. Kebijakan ini diharapkan dapat menjadi “angin segar” bagi keberlangsungan sektor TPT yang krusial bagi perekonomian nasional.
Selain itu, Samuel Wongso juga menekankan pentingnya peran serta masyarakat. Ia berharap masyarakat dapat menunjukkan dukungan dengan tidak membeli barang impor ilegal. Langkah ini dinilai vital untuk menjaga keberlangsungan usaha dan stabilitas ekonomi nasional.
Strategi Wong Hang Bersaudara Hadapi Tantangan
Dalam menghadapi kondisi yang menantang ini, Wong Hang Bersaudara terus berupaya meningkatkan daya saing. Salah satu strategi utama yang didorong adalah efisiensi bisnis melalui peningkatan keterampilan (skill) dan produktivitas para pekerja. Upaya ini diharapkan dapat membantu industri beradaptasi dan tetap kompetitif di tengah gempuran pasar.
Kondisi bisnis sektor tekstil nasional serta upaya-upaya untuk mendorong kinerjanya sempat dibahas lebih lanjut dalam dialog Dina Gurning dengan Samuel Wongso di program Manufacture Check, CNBC Indonesia, pada Senin, 05 Januari 2026.






