Presiden Venezuela Nicolas Maduro dilaporkan telah ditangkap oleh pasukan elite Amerika Serikat (AS) pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat. Penangkapan ini, yang disebut Presiden AS Donald Trump atas tuduhan narkoba, segera memicu pertanyaan setelah Trump menyinggung potensi pengiriman perusahaan minyak raksasa AS ke Venezuela.
Dalam pernyataannya, Trump secara eksplisit menyebut rencana AS untuk mengintervensi sektor energi Venezuela. “Kita akan mengirimkan perusahaan-perusahaan minyak AS yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang untuk negara tersebut,” kata Trump pada Sabtu (3/1/2026) waktu setempat.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Pernyataan tersebut langsung menuai kritik dan spekulasi bahwa motif di balik penangkapan Maduro lebih terkait dengan sumber daya minyak Venezuela daripada tuduhan narkoba. Anggota DPR dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, menegaskan pandangan ini. “Ini adalah pertumpahan darah demi minyak. Ini tidak ada hubungannya dengan perdagangan narkoba,” kata Auchincloss, dikutip dari CNN, Minggu (4/1/2026).
Auchincloss menambahkan, “Narkoba sebagian besar dikirim ke Eropa, dan kokain bukanlah narkoba yang membunuh warga Amerika. Itu adalah fentanyl yang berasal dari China.”
Potensi Besar dan Realita Suram Industri Minyak Venezuela
Venezuela dikenal sebagai negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Namun, menurut pantauan Mureks, potensi besar ini kontras dengan realitas produksi yang rendah akibat salah urus, kurangnya investasi, dan sanksi internasional.
Dikutip dari Reuters, Venezuela memiliki sekitar 17% cadangan minyak global, setara dengan 303 miliar barel, melampaui cadangan milik Arab Saudi. Mayoritas cadangan ini berupa heavy oil yang terletak di wilayah Orinoco, Venezuela tengah, menjadikannya mahal untuk diproduksi.
Sejarah Produksi dan Penurunan Drastis
Sebagai anggota pendiri OPEC, Venezuela pernah menjadi pemain kunci di pasar minyak global. Pada tahun 1970-an, negara ini mampu memproduksi hingga 3,5 juta barel per hari (bph), menyumbang lebih dari 7% produksi minyak dunia saat itu. Namun, produksi terus merosot drastis. Selama tahun 2010-an, angkanya turun di bawah 2 juta bph, dan pada tahun lalu, rata-rata produksinya hanya sekitar 1,1 juta bph, atau sekitar 1% dari total produksi global.
Arne Lohmann Rasmussen dari Global Risk Management menyatakan, “Jika perkembangan pada akhirnya mengarah pada perubahan rezim yang nyata, ini bahkan dapat menghasilkan lebih banyak minyak di pasar dari waktu ke waktu. Namun, dibutuhkan waktu agar produksi pulih sepenuhnya.”
Senada, analis MST Marquee, Saul Kavonic, berpendapat bahwa jika perubahan rezim berhasil, ekspor Venezuela dapat tumbuh seiring dengan dicabutnya sanksi dan kembalinya investasi asing. Namun, Jorge Leon, kepala analisis geopolitik di Rystad Energy, memberikan peringatan. “Sejarah menunjukkan bahwa perubahan rezim yang dipaksakan jarang menstabilkan pasokan minyak dengan cepat, dengan Libya dan Irak menawarkan preseden yang jelas dan menyadarkan,” ujarnya.
Nasionalisasi dan Usaha Patungan PDVSA
Industri minyak Venezuela dinasionalisasi pada tahun 1970-an dengan pembentukan Petroleos de Venezuela S.A. (PDVSA). Meskipun sempat membuka diri untuk investasi asing pada tahun 1990-an, kebijakan berubah setelah Hugo Chavez terpilih sebagai presiden pada tahun 1999, yang mewajibkan kepemilikan mayoritas PDVSA atas semua proyek minyak.
PDVSA kemudian membentuk usaha patungan dengan sejumlah perusahaan internasional seperti Chevron, China National Petroleum Corporation (CNPC), ENI, Total, dan Rosneft Rusia, dengan harapan dapat meningkatkan produksi.
Pergeseran Mitra Dagang: Dari AS ke China
Amerika Serikat dulunya merupakan pembeli utama minyak Venezuela. Namun, setelah diberlakukannya sanksi, Venezuela dalam dekade terakhir lebih banyak menjual minyaknya ke China. Mureks mencatat bahwa Venezuela memiliki utang sekitar 10 miliar dolar AS kepada China, yang merupakan pemberi pinjaman terbesar di bawah mendiang Presiden Hugo Chavez. Pembayaran utang ini dilakukan dengan pengiriman minyak mentah menggunakan tiga kapal tanker super besar yang sebelumnya dimiliki bersama oleh Venezuela dan China.
Pada Desember lalu, dua dari kapal tanker super tersebut sedang mendekati Venezuela ketika Presiden Trump mengumumkan blokade terhadap semua kapal tanker yang masuk dan keluar dari negara tersebut. Menurut dokumen PDVSA dan data pengiriman, kapal-kapal tersebut kini menunggu instruksi, menyebabkan ekspor Venezuela sebagian besar terhenti.
Meskipun demikian, Trump mengatakan kepada Fox News pada hari Sabtu (3/1/2026) bahwa China akan tetap mendapatkan minyak tersebut, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai bagaimana hal itu akan terjadi.





