Rencana penawaran umum perdana saham (initial public offering/IPO) Bank Jakarta kembali menjadi sorotan pasar setelah target pelaksanaannya mengalami pergeseran. Sebelumnya, pada awal 2025, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sempat mendorong agar bank pembangunan daerah (BPD) tersebut dapat melantai di bursa dalam kurun waktu satu tahun.
Namun, memasuki tahun 2026, jadwal IPO Bank Jakarta diumumkan mengalami penyesuaian, dengan target baru yang kini mengarah ke awal 2027. Perubahan target ini, menurut Mureks, tidak terlepas dari serangkaian pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh Bank Jakarta.
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Pekerjaan Rumah dan Transformasi Menuju IPO
Pekerjaan rumah tersebut meliputi perbaikan fundamental internal, penunjukan konsultan yang kredibel, pemenuhan aspek keterbukaan informasi, hingga sinkronisasi dengan regulator dan otoritas pasar modal. Bagi investor, publik, dan pemegang saham pengendali, pertanyaan utamanya bukan hanya kapan IPO akan terjadi, tetapi juga sejauh mana kesiapan Bank Jakarta untuk diuji oleh mekanisme pasar.
Dorongan menuju IPO Bank Jakarta muncul seiring dengan agenda transformasi dan rebranding bank tersebut. Pada pertengahan 2025, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menempatkan rencana “go public” sebagai salah satu tugas utama bagi manajemen Bank DKI, yang kemudian berganti identitas menjadi Bank Jakarta.
Saat peluncuran nama dan logo Bank Jakarta pada 22 Juni 2025 lalu, Pramono Anung Wibowo secara tegas menyatakan, Paling utama tugas saya kepada Direktur Utama, Komisaris Utama dan seluruh jajaran Bank Jakarta adalah untuk mempersiapkan diri untuk go public pada tahun depan.
Pernyataan ini menunjukkan ambisi Pemprov DKI Jakarta agar Bank Jakarta segera melantai di bursa pada tahun 2026.
Pengawasan Publik dan Profesionalisme
Dalam kesempatan yang sama, Pramono juga menekankan pentingnya pengawasan publik terhadap pengelolaan Bank Jakarta. Ia menilai, pengelolaan bank akan menjadi lebih baik bila berada dalam sorotan keterbukaan. Kenapa ini saya sampaikan? Karena saya termasuk yang percaya bahwa untuk me-manage bank seperti Bank Jakarta akan lebih baik kalau di-manage, diawasi secara terbuka oleh publik,
ujarnya.
Gubernur DKI Jakarta itu juga menegaskan aspek profesionalisme, termasuk dalam penataan sumber daya manusia dan praktik tata kelola perusahaan yang baik. Saya tidak membuka ruang sama sekali siapapun untuk bisa menitipkan siapapun itu di Bank Jakarta,
tegas Pramono Anung Wibowo, menunjukkan komitmennya terhadap independensi dan meritokrasi.
Sebelum target bergeser ke 2027, Pramono pada periode awal kepemimpinannya sempat menyebut horizon waktu yang lebih dekat. Ia berharap IPO Bank Jakarta bisa terwujud dalam lima hingga enam bulan atau paling lama satu tahun, sembari menyinggung indikator pembagian dividen sebesar 32 persen dari laba tahun 2024 sebagai modal cerita kinerja bank.
Pada Selasa, 5 Januari 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung juga meresmikan peluncuran kartu debit Visa Bank Jakarta di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari upaya perluasan akses transaksi global.






