Perbankan nasional terus mengoptimalkan fungsi intermediasinya melalui penyaluran pembiayaan korporasi. Langkah ini diambil untuk mendukung aktivitas dunia usaha yang menjadi tulang punggung perekonomian. Di tengah kondisi ekonomi yang dinamis, pembiayaan kepada segmen korporasi dan bisnis menengah ke atas tetap menjadi instrumen pendanaan vital bagi perusahaan, baik untuk kebutuhan operasional, investasi, maupun pengembangan usaha.
Kebutuhan akan kredit korporasi ini selaras dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang menunjukkan peningkatan signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,04% pada kuartal III-2025. Kementerian Keuangan bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2025 dapat mencapai 5,2%, dan diharapkan terakselerasi hingga 5,4% pada tahun 2026.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Selektivitas Perbankan Jadi Kunci
Analis Phintraco Sekuritas, Aditya Prayoga, menekankan bahwa pembiayaan korporasi memegang peran krusial dalam menjaga kesinambungan aktivitas ekonomi, terutama di tengah pergerakan ekonomi yang dinamis. Aditya menjelaskan bahwa permintaan pembiayaan dari segmen korporasi umumnya berkaitan dengan kebutuhan menjaga arus kas, restrukturisasi aktivitas usaha, hingga penyesuaian rencana ekspansi.
Menurutnya, dalam kondisi seperti ini, perbankan cenderung melakukan penyaluran kredit secara selektif. Pertimbangan utama adalah prospek usaha dan kapasitas pembayaran debitur. Pendekatan ini dinilai sebagai bagian dari fungsi intermediasi yang berjalan seiring dengan pengelolaan risiko, tanpa mengabaikan kebutuhan dunia usaha terhadap akses pembiayaan.
“Pembiayaan korporasi tetap dibutuhkan oleh dunia usaha, terutama untuk menopang kegiatan produksi dan investasi. Namun, penyalurannya dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi dan profil masing-masing sektor,” ujar Aditya, dikutip Jumat (9/1/2026).
Bank Woori Saudara Perkuat Portofolio Kredit
Salah satu bank yang aktif menyalurkan pembiayaan korporasi adalah PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (BWS). Bank ini menyediakan pembiayaan kepada debitur korporasi dengan skema yang disesuaikan dengan kebutuhan usaha, mencakup berbagai sektor ekonomi. Menurut Mureks, strategi BWS ini menunjukkan komitmen untuk mendukung sektor produktif sekaligus menjaga kualitas aset.
“Kunci keberhasilan pembiayaan korporat saat ini adalah keseimbangan antara ekspansi kredit dan pengendalian risiko. Bank yang mampu menjaga kualitas portofolio sambil tetap mendukung kebutuhan dunia usaha akan memiliki daya tahan yang lebih kuat,” demikian pernyataan dari pihak BWS.
Hingga akhir September 2025, total kredit yang disalurkan BWS tercatat sebesar Rp46,11 triliun. Porsi signifikan dari jumlah tersebut berasal dari segmen non-UMKM, termasuk pembiayaan korporasi dan komersial. Total aset bank per September 2025 tercatat sebesar Rp59,63 triliun.
Kinerja Keuangan BWS Tetap Solid
Kinerja keuangan BWS juga menunjukkan indikator yang solid. Rasio kecukupan modal (KPMM) berada di level 32,25%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Tingkat likuiditas bank juga terjaga dengan baik, ditunjukkan oleh Liquidity Coverage Ratio (LCR) sebesar 167,16% dan Net Stable Funding Ratio (NSFR) sebesar 108,57%. Angka-angka ini memberikan ruang yang memadai bagi BWS untuk mendukung pembiayaan jangka menengah dan panjang.
Adapun Rasio kredit bermasalah (NPL) gross BWS tercatat sebesar 2,35% dan NPL net sebesar 1,28%. Kedua rasio ini masih berada dalam batas aman industri perbankan, menunjukkan pengelolaan risiko yang efektif di tengah upaya ekspansi kredit.






