PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) mengumumkan langkah strategis signifikan yang akan mengubah arah bisnis perseroan. Didukung penuh oleh pemegang saham mayoritasnya, Poh Group asal Singapura, NINE akan mengintegrasikan aset tambang yang berlokasi di Mongolia ke dalam portofolionya.
Integrasi ini akan direalisasikan melalui mekanisme Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau rights issue. Aksi korporasi ini menandai fase baru transformasi bisnis NINE, yang sebelumnya dikenal di sektor teknologi informasi (TI), kini berekspansi menjadi pemain di sektor pertambangan, baik di Indonesia maupun kawasan regional.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Direktur Utama Techno9 Indonesia, Nuzwan Gufron, pada Jumat (9/1/2026) menyatakan bahwa opsi pembelian aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR) berpotensi memberikan dampak positif bagi pemegang saham. “Hal ini membuka jalur yang lebih terstruktur untuk monetisasi aset dan memperkuat keterlibatan Techno9 Indonesia di masa depan dalam proyek-proyek pertambangan,” ujar Nuzwan.
Menurut catatan Mureks, ekspansi ini merupakan tindak lanjut dari peta jalan strategis Poh Group selaku pemegang saham mayoritas perseroan. PGGR sendiri telah menandatangani Framework Agreement untuk kerja sama pertambangan dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction + Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.
Investasi Besar dan Kapasitas Produksi
Mitra EPC+F tersebut berencana melakukan investasi lebih dari 100 juta dollar AS. Investasi ini ditujukan untuk mengimplementasikan operasional pertambangan proyek-proyek Poh Group atau NINE dan PGGR, dengan kapasitas produksi tahunan yang diproyeksikan melampaui 20 juta ton.
Melalui skema kemitraan strategis ini, Poh Group dan NINE tidak akan menanggung belanja modal (capital expenditure/capex), baik untuk tambang milik sendiri maupun proyek kerja sama operasi. Nuzwan Gufron menjelaskan bahwa realisasi rencana investasi ini bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) yang memuaskan serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) yang diperlukan dari otoritas Tiongkok. “Jumlah investasi aktual akan disesuaikan dengan besaran persetujuan atau pencatatan yang diperoleh,” tambahnya.
Calon mitra EPC+F ini memiliki pengalaman panjang dalam eksploitasi pertambangan dan manajemen operasi. Mereka juga telah melakukan investigasi khusus atas tambang-tambang di Mongolia, Indonesia, dan sejumlah negara lain. Entitas tersebut berdiri sejak 1998 dengan jumlah karyawan lebih dari 1.000 orang dan total aset mencapai lebih dari 500 juta dollar AS. “EPC+F ini memiliki dasar yang kuat untuk kerja sama pertambangan lintas negara,” papar Nuzwan.
NINE akan terus menjajaki dan mengembangkan berbagai peluang usaha, baik di Indonesia maupun kawasan regional, untuk memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemegang saham.






