Emiten tambang nikel di Indonesia kompak mencatatkan kenaikan signifikan pada perdagangan hari ini, Rabu (07/01/2026), melanjutkan tren penguatan yang telah berlangsung selama sepekan terakhir. Lonjakan harga saham ini terjadi seiring dengan melesatnya harga nikel global ke level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir, dipicu oleh kebijakan pembatasan kapasitas produksi di Tanah Air.
Hingga pukul 10.55 WIB pada sesi pertama perdagangan, saham Ifishdeco (IFSH) memimpin penguatan dengan melonjak 24,19% ke level Rp 1.155 per saham, bahkan menyentuh batas auto rejection atas. Dalam sepekan terakhir, saham IFSH telah melesat 460%.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kenaikan juga diikuti oleh saham Vale Indonesia (INCO) yang menguat 12,89% menjadi Rp 6.350, serta saham Harita Nickel atau Trimegah Bangun Persada (NCKL) yang melompat 12,31% ke Rp 1.460 per saham. Emiten tambang nikel milik BUMN, Aneka Tambang (ANTM), turut menguat 12,17% ke Rp 3.870 per saham hari ini, dengan kenaikan 23,17% dalam sepekan.
Saham Merdeka Battery Materials (MBMA) naik 8,33% ke Rp 715 per saham, sementara Central Omega Resources (DKFT) menguat 6,77% ke Rp 1.025 per saham dan telah melonjak 43% dalam sepekan. Saham Sinar Terang Mandiri (MINE) dan Adhi Kartiko Pratama (NICE) masing-masing naik 6% dan 5%. Sementara itu, saham PAM Mineral (NICL) terkoreksi tipis hari ini, namun tercatat telah naik 48% dalam sepekan terakhir.
Mureks mencatat bahwa harga nikel dunia kembali menyentuh level US$ 18.000 per ton, pertama kalinya dalam 15 bulan terakhir. Kontrak nikel tiga bulan di Bursa Logam London (LME) ditutup pada level US$ 18.524 per ton pada perdagangan Selasa (06/01/2026).
Sebelumnya, harga kontrak nikel 3 bulan di LME terakhir kali mencapai level tersebut pada Mei 2024. Kenaikan harga nikel global yang melonjak hampir 40% dalam tiga minggu terakhir ini terjadi di tengah pengurangan pasokan global dari Indonesia, sebagai produsen nikel terbesar di dunia.
Pemerintah Republik Indonesia baru-baru ini mengusulkan pengurangan produksi nikel sebesar 34% dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Kebijakan ini diambil untuk mengatasi kekhawatiran akan kelebihan pasokan dan menanggapi peringatan dari para penambang mengenai kualitas bijih yang semakin memburuk.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa tren harga komoditas saat ini, khususnya batu bara dan nikel, sedang mengalami tekanan akibat kelebihan pasokan di pasar global, termasuk yang berasal dari Indonesia.




