“Saya terlalu miskin untuk membeli barang yang salah. Karena itu, saya tidak takut harga agak tinggi. Saya hanya takut jika tertipu.”
Refleksi jujur dari Alex (35), seorang karyawan swasta di Jakarta, ini menggambarkan sebuah anomali menarik di tengah gempuran ekonomi yang kian ketat. Di saat banyak orang berhemat dan menahan diri untuk berbelanja, Alex justru mengambil keputusan yang terkesan kontradiktif: memborong empat pasang sepatu bermerek.
Narasi ekonomi kita selama bertahun-tahun selalu sederhana: ketika inflasi naik, gaji tetap, biaya hidup mahal, investasi saham dan kripto nyangkut, daya beli turun, serta ekonomi makin ketat, orang akan berhenti belanja. Kita membayangkan pusat perbelanjaan sepi dan keranjang belanja di e-commerce hanya sebatas diklik tanpa checkout, ditinggalkan begitu saja.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
E-commerce Indonesia Tumbuh Dua Digit di Tengah Tekanan Ekonomi
Namun, sebuah fenomena yang tergolong anomali justru sedang terjadi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Menurut laporan e-Conomy SEA 2025 yang dirilis Google, Temasek, dan Bain & Company, pertumbuhan e-commerce di Indonesia justru tembus dua digit, atau 14 persen pada tahun 2025. Mureks mencatat bahwa angka ini menunjukkan percepatan signifikan dibandingkan pertumbuhan nilai transaksi 2024 yang tercatat sebesar 4,95 persen.
Pertumbuhan ini sekaligus mempertahankan posisi Indonesia sebagai ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Orang tetap belanja, hanya mereka makin selektif. Nilai transaksi (GMV) untuk e-commerce Indonesia diperkirakan mencapai 71 miliar dollar AS pada tahun 2025. Secara keseluruhan, ekonomi digital Indonesia mendekati 100 miliar dollar AS.
Faktor pendorong fenomena ini adalah lonjakan video commerce yang mencatat kenaikan volume transaksi 90 persen secara tahunan (YoY) hingga mencapai 2,6 miliar transaksi. Jumlah penjual dan toko daring di platform digital juga meningkat pesat sebesar 75 persen YoY.
Era “Confidence Commerce”
Tren serupa dijelaskan gamblang dalam riset Lazada bersama Cube Asia Study 2025. Laporan ini menggambarkan transisi besar e-commerce Asia Tenggara menuju era yang mereka namakan confidence commerce. Cirinya, faktor kepercayaan dan otentisitas menjadi penggerak utama keputusan belanja konsumen. Pantauan Mureks menunjukkan bahwa pergeseran ini mengubah lanskap belanja daring secara fundamental.
Hingga satu dekade belakangan ini, kita menganggap e-commerce adalah pasar gelap digital terbaik untuk mencari barang black market atau tiruan dengan harga paling miring. Tempat adu murah yang dengan mudah disortir algoritma, dan menciptakan predatory pricing bagi sesama penjual. Anggapan itu kini salah jika berdasarkan data riset tersebut.
Kisah Alex: Belanja Cerdas di Tengah Krisis
Pandangan Alex pada pembuka artikel ini mewakili potret profil kelas menengah Indonesia kini: gaji cukup, tapi berbagai cicilan bisa jadi tekanan baginya untuk lebih cerdas dalam pengeluaran. Teman-teman kantornya sedang sibuk berhemat dengan cara misalnya makan siang bawa bekal, langganan streaming diputus, dan beralih ke kopi kekinian yang lebih terjangkau.
Namun, di layar ponsel Alex, terjadi anomali. Saat notifikasi “Flash Sale” dari flagship store salah satu merek sepatu ternama di e-commerce favoritnya muncul, insting Alex bergerak cepat: wah, diskon sampai 60 persen. Alex tahu ada outlet favorit yang menjadi official store dari merek idaman yang sudah dikurasi oleh e-commerce dengan label “Mall”. Tanpa ragu, jempolnya bergerak cepat.
Bukan satu, bukan dua. Alex melakukan checkout empat pasang sepatu sekaligus. Total transaksi Rp 1.200.000 untuk sepasang sepatu jika harga normal, atau Rp 4.400.000 untuk empat pasang. Namun, karena harga borongan plus diskon fantastis, dia hanya membayar Rp 2.400.000 untuk empat pasang.
“Saya beli empat, yang dua buat saya, yang dua lagi buat istri saya. Kami sama-sama suka sepatu,” kata Alex. Teman di sebelahnya melirik sinis, “Lex, gila lu? Kita lagi krisis, lu malah borong sepatu. Buat apa empat pasang? Lu mau jadi kelabang?”
Di permukaan, Alex terlihat seperti korban konsumerisme yang tidak peka krisis. Data menunjukkan, orang Indonesia sedang mengurangi belanja barang sekunder seperti fesyen. Tapi Alex justru melawan arus. Alex tersenyum tenang. Dia bukan sedang “belanja”. Dalam teori ekonomi, dia sedang melakukan hedging (lindung nilai) aset.
Inilah pembelaan Alex ketika dituduh boros dan konsumtif: “Waduh bukan begitu. Justru karena gue gak punya banyak duit, gue gak mampu beli barang KW murah yang berisiko rusak lebih cepat.” Ini menunjukkan pergeseran ke arah pembelian yang lebih strategis, di mana kualitas dan kepercayaan menjadi prioritas untuk menghindari kerugian jangka panjang.






