Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali mencuri perhatian pasar pada hari ini selasa (6/1/2026). Di tengah sentimen positif terhadap sektor perbankan jumbo, BCA justru mengambil langkah strategis dengan menutup salah satu anak perusahaannya di Hong Kong.
Pada perdagangan hari ini, saham BBCA dibuka menguat di level 8.125 IDR, naik 50 poin atau 0,62%. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak melemah tipis ke posisi 8.849,5690, turun 9,6220 poin atau 0,11%.
BCA Tutup Anak Usaha di Hong Kong
PT Bank Central Asia Tbk mengumumkan telah efektif menutup anak usaha di Hong Kong, yakni BCA Finance Limited, yang bergerak di bidang remittance dan money lending. Informasi tersebut disampaikan melalui keterbukaan informasi pada 5 Januari 2026.
Sekretaris Perusahaan BCA, I Ketut Alam Wangsawijaya, menyampaikan bahwa proses likuidasi telah resmi berlaku sejak 3 Januari 2026 dan dijalankan oleh tim likuidator asal Hong Kong yang ditunjuk langsung oleh BCA.
“BCA Finance Limited merupakan perusahaan anak yang dikendalikan 100% oleh perusahaan,” ujar Ketut dalam keterbukaan informasi tersebut.
Menurut Ketut, keputusan likuidasi diambil dengan mempertimbangkan perubahan pola layanan perbankan nasabah BCA di Hong Kong. Layanan yang sebelumnya dilakukan secara tatap muka kini telah beralih ke kanal digital.
“Ini merupakan inisiatif bisnis yang adaptif dan sejalan dengan perubahan perilaku nasabah yang kian mengandalkan teknologi digital,” tambahnya.
Ia juga menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi sumber daya, mengingat BCA telah memiliki ekosistem layanan digital yang memadai.
“Tidak terdapat dampak material terhadap kegiatan operasional, aspek hukum, kinerja keuangan, maupun kelangsungan usaha perseroan,” tegas Ketut.
Klik di sini untuk update berita tentang BBCA dan saham lainnya!
Asing Sempat Jual BBCA, Tapi Arah 2026 Berubah

Di balik kabar penutupan anak usaha tersebut, prospek saham BBCA justru dinilai semakin menarik memasuki 2026. Sepanjang 2025, investor asing tercatat melakukan net sell Rp 17,34 triliun di pasar saham Indonesia.
Sektor perbankan menjadi sasaran utama aksi jual asing. Saham BBCA mencatatkan nilai net sell terbesar, mencapai Rp 30,03 triliun sepanjang 2025. Disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan Rp 16,98 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp 14,75 triliun.
Selain itu, saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) juga dilepas asing dengan nilai Rp 5,04 triliun, sementara PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) mencatatkan net sell Rp 5,52 triliun.
Baca juga: IHSG Menguat di Pekan Perdana 2026, BBCA Cerminkan Optimisme Investor
BBCA Dinilai Berpeluang Jadi Target Akumulasi Asing

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisory, Ekky Topan, menilai tekanan jual asing pada saham-saham perbankan besar lebih disebabkan oleh faktor makro ekonomi global, bukan fundamental emiten.
“Memasuki 2026, dengan ekspektasi suku bunga yang lebih rendah dan stabilisasi kondisi makro, bank-bank besar justru berpeluang kembali menjadi target akumulasi asing,” kata Ekky kepada Kontan, akhir pekan lalu.
Meski Ekky menyebut BMRI dan BBRI terlihat paling menarik dari sisi valuasi karena relatif murah secara historis, BBCA tetap dipandang sebagai saham defensif favorit dengan fundamental yang solid dan konsistensi kinerja.
Langkah BCA menutup anak usaha di Hong Kong justru mencerminkan disiplin strategi bisnis dan fokus pada efisiensi, yang dalam jangka panjang dapat memperkuat daya tarik BBCA di mata investor.
Dengan harga saham yang kembali menguat, fundamental yang tetap solid, serta langkah bisnis yang dinilai adaptif, BBCA disebut-sebut berpeluang kembali menjadi primadona saham 2026, meski sempat ditekan aksi jual asing pada tahun lalu. Apakah momentum awal 2026 ini cukup kuat untuk membuat investor kembali mengoleksi saham BBCA, atau justru saatnya wait and see menunggu arah pasar selanjutnya?
Klik mureks untuk tahu artikel menarik lainnya!






