Keuangan

China Larang Ekspor Barang Berfungsi Ganda ke Jepang, Tokyo Protes Keras dan Sebut Tak Dapat Diterima

Beijing secara resmi memberlakukan larangan ekspor barang dan teknologi berfungsi ganda yang dapat digunakan untuk sektor militer Jepang. Kebijakan ini segera memicu protes keras dari Tokyo, yang menyebut langkah tersebut “sama sekali tidak dapat diterima” di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

Barang berfungsi ganda merujuk pada produk, perangkat lunak, atau teknologi yang memiliki potensi penggunaan sipil dan militer. Ini mencakup mineral strategis yang krusial untuk produksi drone dan chip semikonduktor, yang menjadi incaran banyak negara sebagai harta karun energi.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Ketegangan antara China dan Jepang memuncak setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, pada akhir tahun lalu menyatakan bahwa potensi serangan China terhadap Taiwan dapat dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi Jepang. Pernyataan ini ditolak keras oleh Beijing, yang menganggap Taiwan sebagai bagian tak terpisahkan dari wilayahnya dan menuntut Takaichi menarik ucapannya. Namun, permintaan tersebut tidak dipenuhi.

Sebagai balasan, pemerintah China meluncurkan serangkaian tindakan, dengan larangan ekspor terbaru ini secara spesifik menargetkan pengguna militer Jepang atau tujuan apa pun yang dapat memperkuat kapabilitas militer negara tersebut. Mureks mencatat bahwa langkah ini memperdalam friksi diplomatik dan ekonomi di kawasan.

Menanggapi kebijakan tersebut, Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyampaikan kekecewaannya. “Langkah seperti ini, yang secara spesifik hanya menargetkan negara kami, sangat berbeda dari praktik internasional, sama sekali tidak dapat diterima, dan sangat kami sesalkan,” tegas Kihara dalam konferensi pers harian.

Kihara menolak berspekulasi mengenai dampak spesifik larangan ini terhadap industri Jepang, mengingat jenis barang yang terdampak masih belum jelas. Namun, pasar merespons negatif. Indeks saham Nikkei Jepang tercatat turun sekitar 1% pada Rabu, berlawanan dengan tren penguatan di pasar Amerika Serikat dan Eropa. Saham kontraktor pertahanan utama seperti Kawasaki Heavy dan Mitsubishi Heavy mengalami tekanan signifikan, masing-masing turun sekitar 2%.

Selain itu, China Daily, media milik Partai Komunis China, melaporkan bahwa Beijing juga tengah mempertimbangkan pembatasan lanjutan terhadap ekspor logam tanah jarang ke Jepang. Jika kebijakan ini diterapkan, dampaknya berpotensi meluas ke berbagai sektor manufaktur Jepang, termasuk industri otomotif yang vital.

Meskipun Jepang telah berupaya mendiversifikasi pasokan logam tanah jarang sejak China menahan ekspor mineral tersebut pada tahun 2010, negara itu masih sangat bergantung pada China untuk sekitar 60% impornya. Untuk jenis logam tanah jarang berat tertentu, yang esensial dalam magnet motor kendaraan listrik dan hibrida, ketergantungan Jepang terhadap China bahkan nyaris total.

Referensi penulisan: finance.detik.com

Mureks