Keuangan

Inflasi Venezuela Melambung Tinggi, IMF Proyeksikan Angka Tahunan Capai 548 Persen

Laju inflasi Venezuela kembali menjadi sorotan tajam sepanjang tahun 2025, setelah sempat menunjukkan perlambatan pada tahun sebelumnya. Kondisi ini terjadi di tengah ketergantungan ekonomi negara tersebut pada sektor minyak dan dinamika hubungan yang semakin konfrontatif dengan Amerika Serikat (AS).

Di kota-kota besar seperti Caracas, perubahan cepat kurs bolivar terhadap dollar AS segera merembet pada harga kebutuhan pokok. Fenomena ini bukan hal baru bagi Venezuela, sebuah negara yang pernah mengalami periode hiperinflasi dan kini masih bertahan dengan praktik “dollarisasi” de facto dalam banyak transaksi ritel.

Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Data Terbatas, Proyeksi Inflasi Melebar

Gambaran inflasi Venezuela hingga tahun 2025 menjadi rumit akibat terbatasnya data resmi yang tersedia. Mureks mencatat bahwa bank sentral Venezuela tidak lagi menerbitkan data inflasi sejak Oktober 2024, menciptakan kekosongan informasi yang signifikan.

Dalam ketiadaan data resmi, proyeksi dari lembaga internasional dan estimasi dari lembaga pemantau independen menjadi rujukan utama bagi pelaku usaha dan analis. Pada Desember 2025, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan bahwa inflasi tahunan Venezuela berpotensi mencapai sekitar 548 persen pada akhir tahun 2025.

Laporan ekonomi pemerintah Swiss (SECO) yang terbit pada Agustus 2025 juga mengindikasikan bahwa inflasi Venezuela diperkirakan akan kembali tinggi pada tahun 2025. IMF sendiri memproyeksikan inflasi mencapai 254 persen, sementara badan internasional lain memperkirakan hingga sekitar 530 persen pada akhir tahun. Perbedaan angka ini mencerminkan variasi metode di antara lembaga-lembaga pemantau, termasuk perkiraan yang lebih rendah dari Observatorio Venezolano de Finanzas (OVF) dan Cedice Libertad.

OVF, melalui survei ekspektasi ekonomi Mei 2025, mencatat median proyeksi inflasi akhir 2025 sekitar 215 persen, dengan rentang antara 205 hingga 240 persen. Bersamaan dengan itu, OVF juga memproyeksikan pelemahan kurs bolivar ke sekitar 187 bolivar per dollar AS pada 31 Desember 2025.

Di sisi lain, laporan Reuters pada Februari 2025, ketika Washington memperketat kebijakan perizinan minyak, telah menggambarkan risiko inflasi yang melonjak seiring menyusutnya pasokan valuta asing. Menurut pantauan Mureks, perbedaan angka-angka ini menunjukkan satu benang merah yang jelas.

Dollar AS, Minyak, dan Sanksi Sebagai Pemicu Utama

Pemicu utama inflasi Venezuela hingga tahun 2025 banyak ditautkan pada ketersediaan dollar AS di pasar domestik. Ketersediaan ini pada akhirnya sangat bergantung pada ekspor minyak dan skema transaksi yang diizinkan atau dibatasi oleh sanksi AS.

Venezuela masih sangat mengandalkan minyak sebagai sumber utama devisa. Ketika aliran dollar AS dari ekspor minyak menipis atau menjadi lebih mahal, tekanan langsung terasa pada kurs bolivar. Tekanan ini kemudian berpindah ke harga barang impor maupun barang domestik yang menggunakan komponen impor.

Reuters pada Februari 2025 melaporkan bahwa pembatalan lisensi minyak oleh Presiden AS Donald Trump akan mengurangi jumlah dollar yang ditawarkan di pasar valuta asing Venezuela, yang pada gilirannya mendorong depresiasi bolivar dan kenaikan harga-harga.

Kondisi ekonomi ini juga terjadi di tengah gejolak politik. Pada 5 Januari 2026, parlemen baru Venezuela dibuka dengan para anggota parlemen yang meneriakkan “Ayo Nico!” saat mereka secara paksa mengecam penangkapan pemimpin kiri Nicolas Maduro dalam operasi militer AS pada 3 Januari 2026. Penangkapan Maduro ini juga disambut suka cita oleh warga Venezuela di Doral, Negara Bagian Florida, Amerika Serikat, pada hari yang sama.

Mureks