Memasuki akhir pekan pertama tahun 2026, Minggu (4/1/2026), pasar saham Indonesia masih berada dalam bayang-bayang optimisme setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan terakhir pekan ini. Pada penutupan hari Jumat, IHSG berakhir di level 8.748,1320, melonjak 101,1940 poin atau 1,17 persen, menandai awal tahun yang solid bagi pelaku pasar.
Penguatan tersebut menjadi pijakan penting bagi investor dalam menyusun strategi pekan perdagangan berikutnya. Saham-saham berkapitalisasi besar, khususnya sektor perbankan, dinilai masih menjadi tulang punggung pergerakan indeks, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) kembali tampil sebagai saham acuan yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
Sentimen Positif dari Pembukaan Bursa dan Outlook Ekonomi
Penguatan IHSG tidak terlepas dari sentimen positif yang mengiringi pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan pandangan optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia sepanjang 2026. Stabilitas fiskal, inflasi yang relatif terjaga, serta kesinambungan pertumbuhan ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong kepercayaan investor untuk kembali masuk ke pasar saham.
Dari sisi otoritas pasar modal, Direktur Utama BEI Iman Rachman menegaskan komitmen pengembangan bursa melalui Master Plan BEI 2026–2030. BEI menargetkan masuk dalam jajaran 10 bursa terbesar dunia dari sisi kapitalisasi pasar dan nilai transaksi pada 2030.
“Melalui master plan BEI 2026–2030, kami menetapkan tujuan besar untuk membangun pasar modal Indonesia yang semakin inovatif, transparan, inklusif, dan terhubung secara global,” ujar Iman di Main Hall BEI.
Klik di sini untuk update berita tentang BBCA dan saham lainnya!
BBCA Jadi Barometer Kuatnya Sektor Perbankan

Di tengah lonjakan IHSG hingga 1,17 persen, saham BBCA kembali berperan sebagai saham acuan (benchmark) sektor perbankan. Sebagai bank dengan kapitalisasi pasar terbesar di Indonesia, pergerakan BBCA kerap mencerminkan kepercayaan investor terhadap stabilitas sistem keuangan nasional.
Secara fundamental, BBCA masih menunjukkan kinerja yang solid. Rasio kredit bermasalah (NPL) berada di level rendah, likuiditas kuat, serta basis nasabah ritel dan korporasi yang luas menopang pertumbuhan bisnis secara berkelanjutan. Faktor tersebut membuat BBCA relatif defensif di tengah ketidakpastian global.
Pada penutupan perdagangan Jumat lalu, saham BBCA berada di level Rp8.025. Seiring penguatan IHSG dan mulai masuknya kembali minat investor terhadap saham-saham blue chip, BBCA berpotensi bergerak menuju area Rp8.400 hingga Rp8.800 atau sekitar 5–10 persen dari harga penutupan.
Minat investor asing juga menjadi katalis tambahan bagi saham bank besar. Dalam kondisi pasar yang mulai kondusif, BBCA kerap menjadi pilihan utama karena reputasi tata kelola perusahaan yang baik serta konsistensi kinerja jangka panjang.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati valuasi BBCA yang sudah tergolong tinggi. Kondisi tersebut membuat potensi kenaikan jangka pendek cenderung lebih terbatas dibandingkan saham perbankan lain dengan valuasi lebih murah.
Baca juga: Rupiah Fluktuatif di Awal Tahun 2026, Pasar Cermati The Fed dan Pergerakan Kurs Dolar BBCA
Saham Bank Besar Lain Ikut Menguat
Selain BBCA, saham perbankan besar lainnya turut diuntungkan oleh sentimen positif awal tahun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diperkirakan bergerak di kisaran Rp3.800–Rp4.100, didukung fokus kuat pada segmen UMKM dan stabilnya permintaan kredit domestik.
Sementara itu, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berpotensi menguat menuju Rp5.300–Rp5.600. Kinerja neraca yang solid dan diversifikasi kredit menjadi faktor pendukung, meskipun pergerakan margin bunga bersih masih dipengaruhi arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.
Di luar sektor perbankan, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) juga dinilai menarik, masing-masing ditopang arus kas kuat dan potensi dividen, meski tetap menghadapi risiko sektoral.
Investor Masih Cermati Arah Lanjutan Pasar

Penguatan IHSG hingga ditutup di level 8.748,1320 menjadi sinyal awal bahwa pasar memulai 2026 dengan kepercayaan yang relatif tinggi. Namun, investor masih akan mencermati sejumlah faktor lanjutan, termasuk arah suku bunga, realisasi target ekonomi pemerintah, serta dinamika global.
Di tengah kondisi tersebut, BBCA tetap dipandang sebagai saham defensif sekaligus representasi optimisme sektor perbankan nasional. Stabilitas fundamental membuat saham ini relevan untuk strategi jangka menengah hingga panjang, meskipun timing masuk tetap menjadi pertimbangan utama.
Dengan IHSG yang ditutup menguat 1,17 persen di awal 2026 dan BBCA kembali menjadi penopang utama pasar, apakah momentum ini akan dimanfaatkan investor untuk menambah posisi di saham perbankan besar, atau justru menunggu koreksi sebelum mengambil peluang berikutnya?
Klik mureks untuk tahu artikel menarik lainnya!






