Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menunjukkan pergerakan yang relatif fluktuatif di awal tahun 2026. Pada perdagangan Jumat lalu, rupiah sempat menguat tipis 0,11% atau 18 poin ke level Rp 16.699 per dolar AS. Meski demikian, pergerakan rupiah dinilai masih rapuh dan rentan terhadap tekanan eksternal.
Pelemahan indeks dolar AS sebesar 0,16% ke level 98,16 memang sempat memberi ruang bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah. Namun, sentimen global yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar tetap berhati-hati memasuki perdagangan hari ini, Sabtu (3/1/2026).
Dolar AS Bergerak Variatif di Kawasan Asia
Pergerakan mata uang Asia pada awal tahun juga belum menunjukkan arah yang seragam. Yen Jepang tercatat menguat 0,07%, sementara dolar Singapura naik 0,06%. Di sisi lain, dolar Taiwan melemah cukup dalam sebesar 0,36% dan dolar Hong Kong turun 0,08%.
Tekanan terhadap sejumlah mata uang regional mencerminkan sikap pasar yang masih menimbang arah kebijakan moneter global, khususnya dari Amerika Serikat. Ketidakpastian ini turut membentuk sentimen terhadap rupiah dan pergerakan nilai tukar di perbankan domestik, termasuk di PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Klik di sini untuk update berita tentang BBCA dan saham lainnya!
Sikap The Fed Masih Jadi Beban Sentimen

Pengamat mata uang dan komoditas, Rully Nova menilai pasar global masih terguncang oleh rilis risalah rapat kebijakan Federal Reserve (The Fed) bulan Desember. Risalah tersebut mengungkap adanya perbedaan pandangan yang cukup tajam di internal bank sentral AS terkait arah suku bunga sepanjang 2026.
“Rupiah ini diperkirakan diperdagangkan menguat di kisaran 16.700-16.770 dipengaruhi oleh faktor global di antaranya risalah hasil rapat the Fed periode Desember yang masih akan memberikan ruang penurunan bunga tahun depan,” jelas Rully.
Meski The Fed telah memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin, sejumlah pejabat menilai pelonggaran lanjutan perlu dilakukan secara hati-hati. Tekanan inflasi yang belum sepenuhnya reda serta prospek ekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian menjadi alasan utama sikap tersebut.
Kondisi ini berpotensi membuat arus modal global bergerak lebih selektif, sehingga berdampak pada stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.
Kurs Dolar AS di BBCA Hari Ini

Di tengah dinamika tersebut, kurs dolar AS di BBCA menjadi perhatian pelaku pasar dan nasabah. Berdasarkan data yang terbaru, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) pada Sabtu menetapkan harga beli dolar AS sebesar Rp 16.718 dan harga jual Rp 16.738 berdasarkan e-rate.
Sementara itu, melalui layanan TT Counter, BCA mematok harga beli dolar AS di Rp 16.530 dan harga jual Rp 16.830. Angka yang sama juga berlaku untuk transaksi Bank Notes, dengan harga beli Rp 16.530 dan harga jual Rp 16.830 per dolar AS.
Perbedaan kurs ini mencerminkan penyesuaian perbankan terhadap volatilitas pasar valas, sekaligus memberi gambaran nyata kondisi rupiah di level transaksi ritel.
Baca juga: BBCA Tertekan di Awal 2026, Saat IHSG Menguat dan Asing Mulai Selektif
Tantangan Domestik Masih Membayangi
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai tekanan terhadap rupiah juga datang dari tantangan ekonomi domestik yang belum sepenuhnya mereda. Harga komoditas pangan dan energi yang masih bergejolak, ditambah daya beli masyarakat yang belum pulih optimal, menjadi faktor yang membatasi penguatan rupiah.
Selain itu, ketidakpastian geopolitik global dan fragmentasi perdagangan internasional turut menambah tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Rupiah dan BBCA, Waktunya Waspada atau Justru Peluang?
Dengan kondisi global yang masih penuh kehati-hatian dan rupiah bergerak dalam rentang terbatas, kurs dolar AS di BBCA menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dan masyarakat. Stabilitas tetap terjaga, namun risiko jangka pendek belum sepenuhnya hilang. Apakah pergerakan rupiah dan kurs dolar AS di BBCA saat ini lebih mencerminkan fase konsolidasi yang sehat, atau justru sinyal kewaspadaan memasuki awal 2026?
Klik mureks untuk tahu artikel menarik lainnya!





