Keuangan

BBCA Tertekan di Awal 2026, Saat IHSG Menguat dan Asing Mulai Selektif

Perdagangan saham hari ini, Sabtu (3/1/2026), menghadirkan kontras di pasar modal. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat lebih dari 1% dan ditutup di level 8.748,13 pada perdagangan sebelumnya. Namun, penguatan IHSG tersebut belum sepenuhnya diikuti saham perbankan besar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru tercatat melemah 0,62% ke level Rp 8.025, meski aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia terbilang ramai.

Tekanan pada saham BBCA hari ini terjadi di tengah tingginya minat transaksi investor. Nilai transaksi mencapai Rp 22,26 triliun dengan volume lebih dari 51 miliar saham. Kondisi ini menegaskan pelemahan BBCA bukan disebabkan oleh sepinya pasar, melainkan lebih dipicu rotasi minat investor di awal tahun, ketika pelaku pasar mulai menata ulang portofolio mereka meski IHSG masih bergerak di zona positif.

Klik di sini untuk update berita tentang BBCA dan saham lainnya!

Aksi Asing Jadi Sorotan, BBCA Masuk Daftar Net Sell

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan investor asing masih mencatatkan net buy Rp 1,06 triliun secara keseluruhan. Namun, menariknya, asing justru melakukan aksi jual pada beberapa saham perbankan besar, termasuk BBCA dengan nilai net sell Rp 39,98 miliar.

Fenomena ini mengindikasikan bahwa investor global mulai bersikap lebih selektif. Alih-alih keluar dari pasar, mereka melakukan rotasi sektor dan menyesuaikan portofolio di awal tahun. BBCA, sebagai saham defensif dengan valuasi premium, menjadi salah satu yang terkena profit taking jangka pendek.

Tekanan BBCA Dinilai Bersifat Teknis, Bukan Fundamental

Bbca
Bbca hari ini (2026/01/03)

Investment Analyst Infovesta Utama, Ekky Topan, menilai pelemahan saham perbankan di awal 2026 termasuk BBCA lebih disebabkan oleh faktor teknikal dan absennya katalis baru. Menurutnya, pasar masih berada dalam fase penyesuaian setelah reli selektif sepanjang akhir 2025.

“Pasar baru memasuki hari-hari awal perdagangan, sehingga investor masih melakukan rebalancing portofolio. Sikap wait and see juga cukup dominan karena belum ada katalis kebijakan maupun kinerja yang benar-benar baru,” Ucap Ekky

Seperti yang dijelaskan Ekky, Investor cenderung mengambil sikap wait and see, sambil menunggu arah kebijakan suku bunga, rilis kinerja kuartalan, serta kepastian outlook ekonomi. Kondisi ini membuat saham-saham big banks seperti BBCA belum menjadi pilihan utama dalam jangka sangat pendek.

BBCA dan Tantangan Big Banks Pasca 2025

Sepanjang 2025, kinerja saham perbankan besar relatif tertinggal dibandingkan bank digital dan bank kecil. Tekanan terhadap net interest margin (NIM) akibat kenaikan cost of fund menjadi tantangan utama. BBCA, meskipun dikenal memiliki struktur pendanaan yang kuat dan efisien, tetap tidak sepenuhnya kebal terhadap dinamika tersebut.

Namun berbeda dengan bank lain, BBCA masih memiliki keunggulan dari sisi kualitas aset, basis dana murah (CASA), serta konsistensi laba. Inilah yang membuat pelemahan harga sahamnya lebih sering dipandang sebagai peluang ketimbang sinyal pelemahan fundamental.

Baca juga: Purbaya Optimistis IHSG Tembus 10.000, BBCA Mulai Dilirik di Tengah Net Sell Asing

Peluang BBCA di 2026 Masih Stabil Tapi Butuh Momentum

BBCA
IHSG hari ini (2026/1/3)

Memasuki 2026, peluang BBCA untuk kembali menguat tetap terbuka. Potensi penurunan suku bunga, stabilisasi NIM, serta pemulihan pertumbuhan kredit dapat menjadi katalis positif. Meski demikian, pergerakan saham BBCA diperkirakan tidak akan agresif, melainkan lebih stabil dan bertahap.

Investor kini mulai menuntut kualitas laba yang nyata, bukan sekadar ekspektasi. Dalam konteks ini, BBCA masih berada di posisi yang relatif aman, meskipun mungkin tidak secepat saham-saham berisiko tinggi dalam mencetak capital gain.

Waktunya Akumulasi atau Masih Menunggu?

Pelemahan BBCA di awal 2026 terjadi di tengah pasar yang sebenarnya cukup optimistis. Dengan fundamental yang tetap solid dan tekanan yang cenderung bersifat jangka pendek, saham ini kembali berada di persimpangan menarik bagi investor. Menurutmu, apakah koreksi BBCA saat ini layak dimanfaatkan sebagai peluang akumulasi, atau justru masih perlu menunggu momentum yang lebih kuat di 2026?

Klik mureks untuk tahu artikel menarik lainnya!

Mureks