Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dijadwalkan akan meresmikan pembukaan perdagangan perdana pasar modal tahun 2026 di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada hari ini, Jumat, 2 Januari 2026. Acara ini menandai dimulainya kembali aktivitas transaksi saham setelah libur akhir tahun.
Berdasarkan undangan resmi PT Bursa Efek Indonesia yang diterima Mureks, sejumlah pejabat negara penting akan turut hadir dalam seremoni pembukaan perdagangan tersebut. Presiden Prabowo tidak hanya akan membuka perdagangan BEI tahun 2026 dan menandatangani sertifikat pembukaan, tetapi juga akan menyampaikan pidato arahan kepada para pelaku pasar modal dan pemangku kepentingan yang hadir.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Acara pembukaan perdagangan ini akan didampingi oleh Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Menteri Keuangan, serta Direktur Utama BEI, menunjukkan komitmen pemerintah terhadap stabilitas dan pertumbuhan pasar modal nasional.
IHSG Menguat Terbatas pada Perdagangan Terakhir 2025
Sebelum pembukaan perdagangan perdana tahun ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup di zona hijau pada perdagangan saham terakhir di BEI, Selasa, 30 Desember 2025. IHSG ditutup menguat terbatas di tengah sektor saham konsumer siklikal yang memimpin kenaikan.
Mureks mencatat bahwa berdasarkan data RTI, IHSG pada hari tersebut ditutup naik 0,03% ke posisi 8.646,93. Sementara itu, indeks saham LQ45 melemah 0,64% ke posisi 846,57, dengan sebagian besar indeks saham acuan lainnya memerah.
Pada perdagangan Selasa pekan lalu, IHSG bergerak di level tertinggi 8.663,66 dan level terendah 8.584,86. Sebanyak 346 saham menguat, 317 saham melemah, dan 146 saham diam di tempat. Total frekuensi perdagangan mencapai 2.607.631 kali dengan volume perdagangan saham 39,5 miliar saham, serta nilai transaksi harian saham sebesar Rp 20,6 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah berada di kisaran 16.755.
Dari 11 sektor saham, enam sektor berhasil menghijau. Sektor saham konsumer siklikal mencatat kenaikan terbesar, yakni 3,03%. Disusul oleh sektor infrastruktur yang bertambah 2,04%, sektor keuangan menanjak 0,97%, sektor konsumer nonsiklikal mendaki 0,51%, sektor properti bertambah 0,36%, dan sektor industri naik 0,19%.
Sebaliknya, sektor saham kesehatan merosot 1,53%, mencatat koreksi terbesar. Sektor saham dasar susut 1,17%, sektor teknologi melemah 0,98%, sektor energi terpangkas 0,19%, dan sektor transportasi susut 0,11%.
Pengamat pasar modal, Reydi Octa, menuturkan bahwa investor pada hari terakhir perdagangan di BEI pada 2025 lebih memilih wait and see. Hal ini terjadi seiring banyak investor yang tidak ingin posisi hold melewati masa libur panjang karena khawatir akan adanya kejutan atau sentimen negatif saat hari libur.
“Sehingga jika investor portofolionya sudah ada keuntungan, investor bisa mengunci keuntungannya terlebih dahulu lalu mulai buyback pada awal tahun,” kata Reydi Octa.
Ia menambahkan, pada hari tersebut juga terjadi ex date dividen dari BBRI dan ADRO yang turut menghambat laju IHSG.
Pergerakan Saham Pilihan pada Akhir Tahun 2025
Pada hari terakhir perdagangan di BEI pada 2025, beberapa saham menunjukkan pergerakan signifikan:
- Saham AUTO merosot 0,37% ke posisi Rp 2.690 per saham. Saham ini dibuka naik 10 poin ke posisi Rp 2.710 per saham, dengan level tertinggi Rp 2.710 dan level terendah Rp 2.670 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.266 kali dengan volume 24.944 saham, dan nilai transaksi harian Rp 6,7 miliar.
- Saham SMGR ditutup naik 0,76% ke posisi Rp 2.640 per saham. Saham SMGR dibuka stagnan di posisi Rp 2.620 per saham, dengan level tertinggi Rp 2.670 dan level terendah Rp 2.610 per saham. Total frekuensi perdagangan 2.739 kali dengan volume 95.658 saham, dan nilai transaksi harian Rp 25,3 miliar.
- Saham MMLP merosot 0,40% ke posisi Rp 498 per saham. Saham MMLP dibuka stagnan di posisi Rp 500 per saham, dengan level tertinggi Rp 525 dan level terendah Rp 494 per saham. Total frekuensi perdagangan 1.468 kali dengan volume 5.419.658 saham, dan nilai transaksi harian Rp 314,3 miliar.
- Saham BOGA ditutup stagnan di posisi Rp 1.115 per saham. Saham BOGA bergerak di level tertinggi Rp 1.120 dan level terendah Rp 1.060 per saham. Total frekuensi perdagangan 59 kali dengan volume 5.408 saham, dan nilai transaksi Rp 575,1 juta.






