Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Jenderal Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) Siti Fauziah menekankan bahwa penguatan Empat Pilar Kebangsaan menjadi solusi strategis untuk menjaga keutuhan dan harmoni nasional. Penegasan ini disampaikan Siti Fauziah di tengah tantangan serius persatuan bangsa, seperti lemahnya penghayatan nilai-nilai keagamaan dan pemahaman agama yang sempit.
Pernyataan tersebut disampaikan Siti Fauziah dalam Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang diselenggarakan bekerja sama dengan Pengurus Daerah (PDA) Aisyiyah Ponorogo, di Ponorogo, Jawa Timur, pada Selasa (30/12). Acara ini dihadiri oleh jajaran Sekretariat Jenderal MPR RI, Plt Bupati Ponorogo Hj. Lidyarista S.H, Ketua PDA Aisyiyah Ponorogo Hj. Titi Listyorini, serta Ketua Saudagar Perempuan Muslim Indonesia Dra. Mardiana Indraswati. Turut hadir pula para peserta dari Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) se-Ponorogo, Amal Usaha ‘Aisyiyah Ponorogo, dan Majelis serta Lembaga PDA Ponorogo.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id
Di hadapan para peserta, Siti Fauziah, yang akrab disapa Ibu Titi, menegaskan bahwa pemahaman agama yang lurus dan moderat adalah mereka yang menghargai keberagaman. Ia menyebutkan bahwa tantangan ini perlu diatasi, salah satunya melalui sosialisasi Empat Pilar MPR RI, yang meliputi Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.
“Saya yakin ibu-ibu di sini memiliki pemahaman agama yang lurus dan moderat. Namun di daerah lain, hal-hal seperti ini masih terjadi dan berpotensi memecah belah bangsa. Tantangan internal lainnya adalah munculnya fanatisme kedaerahan, kurangnya penghargaan terhadap keberagaman, lemahnya keteladanan sebagian pemimpin, serta penegakan hukum yang belum berjalan optimal. Kita semua tentu merasakan keprihatinan ini,” ujar Siti Fauziah.
Selain tantangan internal, Siti Fauziah juga menyoroti faktor eksternal seperti pengaruh globalisasi dan intervensi kekuatan global yang kuat, yang turut memengaruhi kebijakan nasional. Ia menambahkan, media sosial memiliki peran seperti pisau bermata dua, dapat menjadi sarana kebaikan, namun di sisi lain berpotensi menjadi alat pemecah belah bangsa.
Dalam sosialisasi ini, para peserta dibagikan buku-buku Empat Pilar MPR RI, termasuk Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Ketetapan MPR, penjelasan UUD, penjelasan TAP MPR, serta buku rangkuman. Meskipun buku-buku tersebut diterbitkan pada tahun 2004, Siti Fauziah menekankan bahwa isinya masih sangat relevan hingga saat ini.
“Buku Undang-Undang Dasar yang kecil itu memuat seluruh perubahan UUD 1945, mulai dari Amandemen Pertama hingga Amandemen Keempat. Semua sudah dijelaskan di sana dan sangat mudah dipelajari. Sekali lagi, jangan ditumpuk, silakan dimanfaatkan atau dibagikan, karena buku ini sering dicari oleh pelajar dan mahasiswa,” tuturnya.
Siti Fauziah juga mengingatkan kembali pentingnya peran pendidikan budi pekerti yang sempat hilang dari kurikulum, dan dampaknya kini terasa dengan berkurangnya adab dan sopan santun. Ia menyebut hal ini sebagai pekerjaan rumah bersama, terutama bagi para ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga.
“Ini menjadi PR bersama, terutama bagi para ibu sebagai pendidik utama dalam keluarga. MPR RI sendiri terus melakukan berbagai kegiatan sosialisasi Empat Pilar, salah satunya melalui sosialisasi seperti ini, lomba cerdas cermat untuk pelajar SMA di seluruh provinsi, serta debat konstitusi untuk mahasiswa. Semua ini bertujuan menanamkan nilai-nilai kebangsaan kepada generasi muda,” jelasnya.
Menurut Siti Fauziah, penanaman nilai-nilai kebangsaan ini sangat penting mengingat generasi muda saat ini akan memegang estafet kepemimpinan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, ia memohon kepada para peserta untuk menularkan nilai-nilai kebangsaan ini kepada anak, cucu, keluarga, dan lingkungan sekitar. “Sebagai penutup, saya berpesan agar kita bersama-sama menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” pungkasnya.
Senada dengan Siti Fauziah, Plt Bupati Ponorogo Hj. Lidyarista S.H mengingatkan pentingnya kehati-hatian terhadap arus informasi hoaks dan pengaruh global yang masif, yang berpotensi meruntuhkan nasionalisme. “Siti Fauziah menekankan pentingnya pemahaman Empat Pilar MPR RI. Intinya, kita harus hati-hati terhadap hoaks. Kadang ketika bermain handphone, kita tiba-tiba menerima kabar misalnya soal jalan rusak padahal kondisi di lapangan sudah baik. Dari situ kita belajar bahwa media sosial harus kita sikapi dengan bijak,” ujar Lidyarista.






