JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat dinamika pasar yang kontras sepanjang tahun 2025. Saham-saham bank besar mengalami tekanan signifikan, sementara saham konglomerat justru melesat dan menjadi primadona investor. Kondisi ini turut menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil ditutup menguat.
Dinamika Saham Perbankan: Big Banks Tertekan, Digital Melesat
Saham-saham bank besar yang menjadi tulang punggung pasar modal, seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), menunjukkan penurunan sepanjang tahun 2025. Data year-to-date (YTD) per 31 Desember 2025 menunjukkan BBRI terkoreksi 10,3 persen, BBCA turun 16,5 persen, dan BMRI melemah 10,5 persen. Hanya PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang mampu mencatat kenaikan tipis sebesar 0,5 persen.
Ikuti artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Penurunan kinerja saham bank besar ini dipicu oleh beberapa faktor, antara lain perlambatan ekonomi domestik, kenaikan suku bunga acuan yang berdampak pada tekanan margin bunga bersih, serta aksi ambil untung investor, terutama menjelang penutupan tahun.
Berbanding terbalik, saham-saham bank digital justru menunjukkan kinerja positif yang mencolok. PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) melonjak 120,2 persen, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) melesat 112,9 persen, dan PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR) tumbuh 15,2 persen. Selain itu, PT Bank Permata Tbk (BNLI), yang masuk kategori bank lapis dua, mencatat kenaikan tertinggi di sektor perbankan dengan penguatan fantastis sebesar 445 persen.
Pada perdagangan terakhir tahun ini, Selasa (30/12/2025), saham BBHI memimpin kenaikan harian dengan penguatan 3,5 persen, diikuti AMAR dan SUPA yang masing-masing naik 2,8 persen, serta BBYB menguat 2,1 persen. Dari kelompok bank besar, BBNI naik 2,6 persen, BBCA 0,6 persen, BMRI 0,5 persen, sementara BBRI kembali terkoreksi 3,2 persen.
Analis pasar modal sekaligus pendiri Republik Investor, Hendra Wardana, menilai tahun 2025 menjadi periode penyesuaian strategi bagi industri perbankan. “Bank fokus pada efisiensi biaya, kualitas aset, dan penguatan permodalan sehingga laba tetap solid meski pertumbuhan kredit terbatas,” ujar Hendra, seperti dikutip dari Kontan.co.id. Ia menambahkan bahwa bank besar tetap relevan sebagai pilihan defensif berkat skala bisnis dan konsistensi dividen, sementara bank digital memiliki potensi besar meskipun diiringi risiko yang lebih tinggi.
Saham Konglomerat Jadi Primadona, Topang IHSG
Berbeda dengan sektor perbankan tradisional, saham-saham konglomerat tampil sebagai primadona sepanjang tahun 2025. Lonjakan harga saham konglomerat ini melanjutkan tren positif dua tahun terakhir dan bahkan semakin berakselerasi. Kinerja impresif ini menjadi salah satu penopang utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang berhasil naik 22,1 persen sepanjang tahun, jauh melampaui kenaikan indeks IDX30 yang hanya 3 persen.
Pergerakan saham konglomerat melalui dua fase utama. Pada paruh pertama 2025 (1H25), sentimen negatif sempat muncul akibat rencana MSCI untuk memperketat kriteria indeks, yang memicu kekhawatiran di kalangan investor. Namun, sentimen berbalik positif pada paruh kedua setelah rencana tersebut dibatalkan. Momentum positif semakin kuat ketika pada rebalancing MSCI Agustus 2025, dua saham konglomerat, DSSA dan CUAN, berhasil masuk indeks MSCI Indonesia Global Standard, memberikan dorongan besar bagi saham konglomerat lainnya.






