Keuangan

Dolar AS Menguat di Awal 2026 Setelah Tertekan Sepanjang Tahun Lalu, Pasar Nantikan Arah The Fed

JAKARTA – Dolar Amerika Serikat (AS) mengawali tahun 2026 dengan penguatan signifikan pada Jumat (2/1/2026), setelah sepanjang tahun sebelumnya menghadapi tekanan terhadap sebagian besar mata uang utama dunia. Kondisi ini terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap rilis data ekonomi penting AS yang akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) ke depan.

Sementara itu, Yen Jepang kembali menunjukkan pelemahan, mendekati level terendah dalam sepuluh bulan terakhir. Pelemahan yen ini mencerminkan sikap pelaku pasar yang berhati-hati sambil menanti sinyal kebijakan moneter global.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca melalui Mureks. mureks.co.id

Dinamika Pasar Valuta Asing Sepanjang 2025

Sepanjang tahun 2025, pasar keuangan global diwarnai oleh menyempitnya selisih suku bunga antara Amerika Serikat dan negara-negara lain. Fenomena ini menjadi pendorong utama penguatan tajam berbagai mata uang utama terhadap dolar AS. Namun, Yen Jepang menjadi pengecualian, yang justru tetap berada dalam posisi lemah.

Dolar AS juga sempat tertekan oleh sejumlah kekhawatiran, termasuk defisit fiskal AS, potensi risiko perang dagang global, serta isu independensi bank sentral AS. Menurut Mureks, faktor-faktor ini diperkirakan masih akan terus memengaruhi pergerakan dolar AS hingga sepanjang tahun 2026.

Volume perdagangan pada Jumat (2/1/2026) relatif tipis karena pasar keuangan di Jepang dan China tutup, sehingga pergerakan mata uang cenderung terbatas. Jens Naervig Pedersen, analis valuta asing di Danske Bank, menyatakan, “Likuiditas pasar kemungkinan membaik pekan depan seiring lebih banyak data ekonomi yang dirilis,” seperti dikutip dari Reuters.

Performa Mata Uang Utama Lainnya

Pada hari perdagangan pertama tahun ini, Euro melemah 0,2% ke level US$1,1725. Pelemahan ini terjadi setelah aktivitas manufaktur zona Euro pada Desember tercatat turun ke titik terlemah dalam sembilan bulan terakhir. Meskipun demikian, Euro mencatat kenaikan impresif sebesar 13,5% sepanjang tahun 2025, menjadikannya penguatan tahunan terbesar sejak 2017.

Serupa dengan Euro, Pound sterling terakhir diperdagangkan di US$1,3439. Mata uang Inggris ini juga menunjukkan performa kuat sepanjang 2025, dengan lonjakan 7,7%, yang merupakan kenaikan tahunan terbesar sejak 2017.

Indeks dolar, yang berfungsi sebagai pengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,2% ke level 98,44 pada Jumat. Namun, secara tahunan, indeks ini anjlok 9,4% sepanjang 2025, menandai penurunan terbesar dalam delapan tahun terakhir.

Fokus Pasar ke Depan: Data Ekonomi dan Ketua The Fed

Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian mereka pada rilis sejumlah data ekonomi penting AS yang dijadwalkan pekan depan, termasuk data ketenagakerjaan dan klaim pengangguran. Data-data ini diharapkan dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta arah kebijakan suku bunga The Fed di masa mendatang.

Selain itu, perhatian pasar di awal tahun juga tertuju pada siapa yang akan dipilih Presiden AS Donald Trump sebagai ketua The Fed berikutnya. Masa jabatan Jerome Powell sebagai ketua The Fed akan berakhir pada Mei mendatang. Trump sebelumnya telah mengisyaratkan akan mengumumkan pilihannya pada bulan ini, dengan penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, disebut-sebut sebagai kandidat terkuat.

Mureks