Putra Shah terakhir Iran, Reza Pahlavi, mendesak Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk segera turun tangan menyikapi gelombang protes yang terus melanda Iran. Pahlavi juga menyerukan demonstran untuk merebut pusat-pusat kota sebagai tujuan aksi mereka.
Pahlavi, yang saat ini bermukim di wilayah Washington, menyampaikan seruan tersebut melalui media sosial. “Bapak Presiden, ini adalah seruan mendesak dan segera untuk perhatian, dukungan, dan tindakan Anda,” tulis Pahlavi. Ia melanjutkan, “Mohon bersiaplah untuk turun tangan untuk membantu rakyat Iran.”
Simak artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
Dalam pernyataannya, Pahlavi tidak merinci bentuk intervensi spesifik yang ia harapkan dari Trump. Namun, ia menyoroti situasi kritis di Iran, termasuk pemadaman internet secara nasional dan ancaman penggunaan kekerasan terhadap para demonstran yang turun ke jalan.
Pahlavi secara aktif mendorong partisipasi publik dalam protes. “Saya telah menyerukan rakyat untuk turun ke jalan untuk memperjuangkan kebebasan mereka dan untuk mengalahkan pasukan keamanan dengan jumlah yang besar. Tadi malam mereka melakukannya,” tulisnya pada Sabtu (10/1/2026).
Ia juga mengapresiasi peran Trump dalam menahan rezim Iran. “Ancaman Anda terhadap rezim kriminal ini juga telah menahan para preman rezim tersebut. Tetapi waktu sangat penting. Rakyat akan kembali turun ke jalan dalam satu jam. Saya meminta Anda untuk membantu,” tambahnya.
Lebih lanjut, Pahlavi mendesak warga Iran untuk melakukan protes yang lebih terarah dengan tujuan strategis. “Tujuan kita bukan lagi hanya turun ke jalan. Tujuannya adalah bersiap untuk merebut dan menguasai pusat-pusat kota,” kata Pahlavi dalam pesan video di media sosial, mendorong lebih banyak protes pada hari Sabtu dan Minggu. Ia juga menyatakan “bersiap untuk kembali ke tanah air saya” pada hari yang menurutnya “sangat dekat”.
Reza Pahlavi adalah putra mendiang Mohammad Reza Shah dan Permaisuri Farah Pahlavi, raja Iran yang tersingkir lewat Revolusi Islam pada 1979. Catatan Mureks menunjukkan, Dinasti Pahlavi berkuasa dari tahun 1925 hingga 1979. Ia dikenal sebagai salah satu musuh utama Ayatollah Ali Khamenei dan keluarganya.
Pahlavi secara terang-terangan mendukung serangan Israel ke Iran untuk menumbangkan kepemimpinan Ayatollah Ali Khamenei. Ia telah secara blak-blakan meminta agar terjadi penggulingan rezim di Iran.
Presiden Trump sendiri, yang tahun lalu memerintahkan pengeboman situs-situs nuklir Iran bekerja sama dengan Israel, telah mengancam tindakan militer jika pihak berwenang Iran terus membunuh para pengunjuk rasa yang turun ke jalan.






