Internasional

Gelombang Protes Anti-Pemerintah Guncang Iran, Masjid Dilalap Api dan Slogan ‘Matilah Khamenei’ Bergema

Gelombang demonstrasi anti-pemerintah terus mengguncang hingga Minggu, 11 Januari 2026, dengan ribuan warga turun ke jalan meneriakkan slogan-slogan penolakan terhadap rezim. Aksi protes yang memanas ini juga diwarnai insiden pembakaran masjid dan pemadaman akses internet yang melumpuhkan komunikasi.

Menurut video yang diverifikasi oleh AFP, protes baru meletus pada Sabtu malam di distrik utara Teheran. Para demonstran terlihat meneriakkan “Matilah Khamenei,” merujuk pada pemimpin tertinggi , serta “Hidup Shah,” sebuah seruan dukungan untuk penguasa Pahlavi yang digulingkan pada revolusi Islam 1979.

Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Situasi semakin tegang setelah pihak berwenang memberlakukan pemadaman internet sejak Kamis (8/1/2026), memutus hubungan para demonstran dari dunia luar. Namun, video yang bocor dari negara itu, termasuk yang beredar di TRT World, menunjukkan ribuan orang tetap berdemonstrasi di Teheran semalaman hingga Sabtu pagi. Salah satu video bahkan memperlihatkan sebuah masjid di Iran dilalap api akibat protes ini.

Di Lapangan Punak Teheran, kembang api dinyalakan sementara para demonstran memukul panci dan meneriakkan slogan-slogan dukungan. The Guardian melaporkan, kerumunan demonstran juga berpawai di jalan-jalan Mashhad, kota kelahiran Khamenei, yang telah mengutuk para demonstran sebagai “perusak” dan menyalahkan Amerika Serikat karena “mengipasi api perbedaan pendapat.”

Merespons situasi ini, Jaksa Agung Iran, Mohammad Mahvadi Azad, memperingatkan masyarakat untuk tidak ikut serta dalam protes. Ia menyatakan, siapa pun yang melakukan hal itu akan dianggap sebagai “musuh Tuhan,” sebuah tuduhan yang dapat berujung hukuman mati. Televisi pemerintah kemudian mengklarifikasi bahwa bahkan mereka yang membantu para pengunjuk rasa pun dapat menghadapi tuduhan serupa.

Dari luar negeri, mantan Presiden AS Donald Trump berulang kali mengancam akan campur tangan jika otoritas Iran membunuh para demonstran. Pada Jumat (9/1/2026), Trump menyatakan bahwa otoritas Iran “dalam masalah besar,” menambahkan, “Lebih baik kalian jangan mulai menembak, karena kami juga akan mulai menembak.”

Pada Sabtu malam, Trump kembali menegaskan dukungan AS melalui unggahan di media sosial Truth Social. “Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin seperti belum pernah terjadi sebelumnya. AS siap membantu!!!” tulis Trump, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Catatan Mureks menunjukkan bahwa pernyataan ini menambah tekanan internasional terhadap rezim Teheran.

Sementara itu, Reza Pahlavi, putra mantan Shah Iran yang diasingkan, menyerukan para pengunjuk rasa untuk turun ke jalan pada Sabtu dan Minggu, serta merebut kendali kota mereka. Pahlavi, yang semakin populer di tengah gelombang protes ini, meminta masyarakat untuk mengibarkan bendera “singa dan matahari” pra-1979 yang digunakan selama pemerintahan ayahnya.

“Tujuan kami bukan lagi hanya untuk turun ke jalan. Tujuannya adalah untuk bersiap merebut pusat kota dan mempertahankannya,” kata Pahlavi, sembari berjanji akan segera kembali ke Iran. Menurut pantauan Mureks, pemblokiran berkelanjutan terhadap internet dan jaringan seluler menyulitkan media internasional untuk memperkirakan ukuran demonstrasi, yang merupakan demonstrasi terbesar di Iran dalam beberapa tahun terakhir dan menimbulkan tantangan serius bagi kekuasaan rezim.

Mureks