Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menaruh harapan besar kepada jajaran direksi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) yang baru. Ia secara tegas meminta agar direksi mendatang mampu memberantas praktik saham gorengan di pasar modal Indonesia. Pernyataan ini disampaikan Purbaya usai acara pembukaan perdagangan BEI 2026 di Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Tantangan untuk Direksi Baru BEI
Purbaya menekankan pentingnya komitmen kuat dari direksi BEI yang akan berganti melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada Juni 2026. “Pokoknya harus bisa mengerti pasar, dan bisa mengembangkan base dari investor retail dan institusi di sini,” ujar Purbaya.
Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.
Lebih lanjut, ia menambahkan, “Dan yang paling penting adalah mereka harus punya komitmen yang kuat untuk membersihkan pasar dari para penggoreng saham yang kurang bertanggung jawab.“
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bahkan menjanjikan insentif khusus bagi BEI jika berhasil memberantas praktik manipulasi saham tersebut. Namun, insentif ini tidak akan diberikan tanpa bukti nyata. “Mereka belum minta insentif. Kalau mereka minta insentif, saya akan tanya apa prestasinya, berapa orang (penggoreng saham) yang ditangkap,” tegas Purbaya, seperti yang Mureks catat dari pantauan di lokasi.
Optimisme IHSG Tembus 10.000
Di sisi lain, Purbaya juga menyampaikan optimismenya terhadap pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dinilai bisa menembus level 10.000 pada tahun 2026 ini. Prospek ekonomi Indonesia yang jauh lebih baik menjadi landasan keyakinan tersebut.
“Jadi pelaku pasar siap-siap saja. Tahun ini 10.000 itu bukan angka yang mustahil dicapai. Dari pertumbuhan ekonomi yang baik, lebih baik daripada tahun lalu,” kata Purbaya.
Menurutnya, kondisi ini didukung oleh kendali penuh kebijakan ekonomi yang telah berjalan selama satu tahun penuh bersama Gubernur Bank Indonesia dan pemangku kepentingan lainnya. “Kan sekarang satu tahun penuh ini saya sudah pegang ekonominya lah sama Gubernur BI dan lain-lain. Kalau kemarin kan kita masih separuh-separuh, cuma seperempat malah. Harusnya dengan kebijakan yang lebih sinkron kita dengan Bank Sentral, dengan yang lain-lain, ekonomi kita bisa tumbuh lebih cepat,” paparnya.
Purbaya menilai, pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat akan berdampak langsung pada peningkatan kinerja dan keuntungan perusahaan, khususnya emiten yang tercatat di pasar modal Indonesia. Oleh karena itu, ia mengimbau para investor untuk lebih jeli dalam menangkap peluang investasi sepanjang tahun ini. “Itu akan melandasi pertumbuhan keuntungan perusahaan juga. Jadi kalau investor-investor yang jeli, jangan sampai ketinggalan,” pungkasnya.






