Pemadaman jaringan internet berskala nasional di Iran telah memasuki hari kedua, berlangsung lebih dari 36 jam pada Sabtu (10/1/2026). Kebijakan ini diberlakukan di tengah meluasnya gelombang protes anti-pemerintah yang kini telah menyebar ke seluruh 31 provinsi di negara tersebut.
Otoritas Teheran dinilai sengaja membatasi arus informasi dan koordinasi massa di jalanan. Pemantau internet global, Netblocks, mengonfirmasi bahwa gangguan jaringan masih berlangsung sejak unjuk rasa kembali pecah.
Pembaca dapat menelusuri artikel informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id
“Setelah malam protes lainnya yang direspons dengan represi, metrik menunjukkan pemadaman internet nasional tetap berlaku selama 36 jam,” tulis Netblocks dalam unggahan di platform X, seperti dikutip AFP pada Sabtu (10/1/2026).
Aksi demonstrasi yang dipicu anjloknya nilai mata uang rial sejak 28 Desember 2025 itu kini telah menarik puluhan ribu orang turun ke jalan. Ini terjadi meskipun aparat keamanan meningkatkan penindakan dan pemerintah memperluas pemadaman internet serta pembatasan komunikasi internasional.
Menurut Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia, sedikitnya 65 orang tewas dan lebih dari 2.300 lainnya ditahan selama 12 hari protes berturut-turut. Di kota-kota besar seperti Teheran dan Mashhad, massa meneriakkan slogan anti-pemerintah dan menyerukan perubahan politik.
Tanggapan Pemerintah dan Tekanan Internasional
Pemerintah Iran menegaskan tidak akan mencabut pemadaman internet. Pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei menuduh para demonstran bertindak atas pengaruh asing dan menyatakan negara akan merespons secara tegas. Kepala peradilan Iran bahkan bersumpah menjatuhkan hukuman “maksimal” bagi peserta demonstrasi.
Tekanan internasional terhadap Iran pun meningkat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan Teheran agar tidak menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran, sementara Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan dukungan Washington terhadap rakyat Iran. Catatan Mureks menunjukkan, sejumlah maskapai asing, termasuk flydubai dan Turkish Airlines, telah membatalkan penerbangan ke dan dari Iran akibat situasi ini.
Dengan seruan aksi harian dari tokoh oposisi di pengasingan Reza Pahlavi dan kemarahan publik yang terus membesar, pemadaman internet nasional justru dinilai berpotensi memperdalam krisis dan memperkuat perlawanan terhadap pemerintahan ulama di Teheran.






