JAKARTA – Partisipasi publik di pasar modal Indonesia menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Data terbaru per akhir 2025 mencatat pertumbuhan jumlah investor yang masif, terutama dari kalangan generasi muda. Namun, euforia ini juga membawa risiko, salah satunya adalah fenomena Fear of Missing Out (FOMO) yang berpotensi merugikan investor pemula.
Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik menyoroti tingginya minat masyarakat untuk berinvestasi, bahkan di tengah ketidakpastian kondisi global. “Menariknya, meskipun kebijakan tarif impor mulai diberlakukan, minat masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal Indonesia tetap tinggi,” ujar Jeffrey, seperti dikutip dari Antara pada Jumat (2/1/2026).
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Pertumbuhan basis investor yang terus menanjak ini memang menjadi indikator positif bagi pasar modal nasional. Namun, Jeffrey juga menekankan pentingnya kesiapan literasi dan ketahanan psikologis, sebab FOMO sering kali mendorong keputusan investasi yang tidak terencana dan berujung pada kerugian yang sebenarnya bisa dihindari.
Apa Itu FOMO dalam Investasi dan Mengapa Berbahaya?
Dalam konteks investasi, FOMO muncul ketika seorang investor terdorong untuk membeli aset karena melihat harganya melesat tajam, menyaksikan orang lain memamerkan keuntungan, atau mendengar narasi tentang “kesempatan emas yang hanya datang sekali”. Dorongan emosional ini sering kali memicu keputusan “beli sekarang, pikir belakangan”.
FOMO kerap membuat investor pemula melewati tahapan dasar yang krusial dalam berinvestasi. Keputusan investasi yang diambil lebih menyerupai reaksi spontan ketimbang proses yang terukur dan matang.
- Memahami instrumen investasi dan risikonya secara mendalam.
- Menilai kesesuaian investasi dengan tujuan keuangan dan profil risiko pribadi.
- Menyiapkan batas rugi (cut loss) dan rencana keluar (exit plan) yang jelas.
- Mengelola ukuran posisi investasi agar potensi kerugian tidak membesar secara tidak terkendali.
Dari sisi perilaku pasar, euforia yang didasari FOMO juga dapat memperbesar volatilitas. Banyak investor cenderung masuk di harga yang sudah tinggi (late entry), lalu panik dan menjual ketika harga berbalik arah. Siklus klasik “beli karena takut ketinggalan, jual karena takut rugi” ini sering menjebak investor pemula.
Pertumbuhan Investor Ritel dan Lingkungan Subur bagi FOMO
Fakta pertumbuhan investor ritel di Indonesia tidak dapat diabaikan. Mureks mencatat bahwa PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melaporkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) per 29 Desember 2025. Angka ini menunjukkan pertumbuhan signifikan sebesar 37 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan 14,87 juta SID pada akhir tahun 2024.
Jumlah SID terkonsolidasi tersebut mencakup investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara (SBN), serta efek lain yang tercatat di KSEI. Secara rinci, terdapat 8,59 juta investor yang memiliki saham dan efek lainnya, tumbuh 35 persen (yoy) dibandingkan 6,38 juta investor pada akhir 2024.
Sementara itu, sebanyak 19,17 juta investor memiliki aset reksa dana, meningkat 37 persen (yoy) dibandingkan 14,03 juta investor pada akhir 2024. Adapun investor yang memiliki SBN mencapai 1,41 juta, tumbuh 18 persen (yoy) dibandingkan 1,2 juta investor pada akhir 2024. Data ini menggarisbawahi bahwa meskipun akses investasi semakin mudah, pemahaman dan disiplin tetap menjadi kunci bagi keberhasilan investor.






