Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat peningkatan kontribusi pasar modal Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 72% pada akhir tahun 2025. Angka ini naik signifikan dari 56% di tahun 2024. Namun, capaian tersebut masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan.
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, membandingkan pertumbuhan pasar modal Indonesia dengan India yang mencapai sekitar 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB masing-masing. Meski demikian, kontribusi investor ritel di pasar modal Indonesia justru menunjukkan dominasi yang lebih besar dibandingkan negara-negara tetangga.
Baca artikel informatif lainnya di Mureks melalui laman mureks.co.id.
“Angka itu masih berada di bawah negara-negara di kawasan kita seperti India 140%, Thailand 101%, dan Malaysia 97% dari PDB mereka masing-masing. Yang artinya, potensi pengembangan masih lebih besar lagi. Porsi transaksi investor retail meningkat pesat dari 38% di akhir tahun 2024 menjadi 50% berdasarkan data terakhir dan proporsi ini sangat besar dibandingkan negara-negara lainnya,” ungkap Mahendra dalam sambutannya pada pembukaan perdagangan di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/1/2026).
Mahendra menambahkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup pada level 8.646,94 di akhir perdagangan 30 Desember 2025. Pencapaian ini menandai penguatan sebesar 22,13% sepanjang tahun, yang mencerminkan kinerja pasar modal yang solid sejalan dengan pertumbuhan ekonomi nasional.
Mureks mencatat bahwa tidak semua indikator bergerak seimbang. Indeks LQ45, yang berisikan saham-saham unggulan dan menjadi acuan utama bagi investor institusional, justru hanya tumbuh 2,41% sepanjang tahun 2025.
“Kita juga melihat bahwa masih banyak ruang perbaikan yang harus dilakukan. Indeks LQ45 yang berisi saham-saham perusahaan terbesar dan menjadi rujukan investasi fund manager global maupun domestik hanya tumbuh 2,41% jauh di bawah kenaikan IHSG,” imbuhnya.
Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki target ambisius untuk masuk jajaran 10 besar bursa dunia dalam lima tahun ke depan. Target ini tertuang dalam Masterplan BEI 2026-2030, yang diharapkan dapat dicapai berdasarkan kapitalisasi pasar atau transaksi perdagangan.
Direktur Utama BEI, Iman Rachman, juga menargetkan nilai Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) mencapai Rp 15 triliun pada tahun 2026. Target ini didasarkan pada kondisi makroekonomi nasional dan global yang prospektif.
“Harapannya Indonesia dapat masuk ke jajaran top 10 bursa dunia berdasarkan kapitalisasi pasar atau nilai transaksi sekaligus memberikan manfaat optimal bagi investor, emiten, dan perekonomian nasional,” jelas Iman dalam acara pembukaan perdagangan di Main Hall BEI, Jakarta, Jumat (2/12/2025).






