Jumat, 02 Januari 2026 – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita secara tegas menyatakan pentingnya pemberian insentif bagi industri otomotif di tahun 2026. Usulan ini telah disampaikan melalui surat resmi kepada Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, menyusul kondisi penjualan mobil yang lesu.
Agus Gumiwang menekankan bahwa sektor otomotif memiliki dampak signifikan terhadap perekonomian nasional, sehingga tidak mungkin diabaikan. “Sektor ini merupakan sektor yang sangat penting, terlalu penting untuk kita abaikan, tidak mungkin kita abaikan. Forward, backward linkage yang luar biasa besar, penyerapan tenaga kerjanya juga luar biasa besar, nilai tambah untuk ekonominya juga luar biasa besar. Dan oleh sebab itu, kami akan tetap mengusulkan insentif atau stimulus kepada pemerintah untuk sektor otomotif,” ujar Agus.
Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id
Menurut Agus, insentif ini krusial untuk memulihkan industri yang sedang mengalami penurunan. Tujuan utamanya adalah melindungi tenaga kerja yang terlibat dalam ekosistem otomotif dan memperkuat manufaktur di bidang ini, yang pada akhirnya akan berkontribusi pada perekonomian negara.
“Kami sudah kirim dan tentu seperti yang selalu kami sampaikan bahwa program yang kami usulkan atas nama perlindungan tenaga kerja, dan juga kekuatan atau penguatan manufaktur bidang otomotif yang pada akhirnya akan memberikan kontribusi kepada perekonomian,” jelasnya, seperti diberitakan Antara.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengusulkan insentif dengan syarat tertentu, yakni kendaraan harus memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) yang tinggi dan memenuhi standar emisi yang ditetapkan. Hal ini untuk memastikan bahwa insentif yang diberikan tidak hanya mendorong penjualan, tetapi juga mendukung industri lokal dan keberlanjutan lingkungan.
“Interest dari Kemenperin cuma satu, yakni melindungi tenaga kerja yang ada di sektor otomotif, yang ada di ekosistem otomotif karena forward dan backward linkage-nya sangat tinggi sektor otomotif itu terlalu besar, maka itu harus kita lindungi,” tegas Agus. Ia juga menambahkan bahwa Kemenperin tidak ingin usulan insentif ini membebani anggaran negara, sehingga perhitungan manfaat (benefit) harus lebih besar dari biaya (cost) yang dikeluarkan.
Mureks mencatat bahwa industri otomotif memang sedang menghadapi tantangan serius. Melemahnya daya beli masyarakat telah berdampak langsung pada penjualan mobil. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan penurunan signifikan.
Secara kumulatif, distribusi wholesales (dari pabrik ke dealer) periode Januari-November 2025 hanya mencapai 710.084 unit. Angka ini turun 9,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 785.917 unit. Sementara itu, penjualan retail sales (dari dealer ke konsumen) tercatat 739.977 unit selama 11 bulan tahun ini, turun 8,4 persen dari 807.586 unit pada periode yang sama tahun lalu.






