Nasional

Menggali Suara Perlawanan: Rendra dan Wiji Thukul dalam Pusaran Represi Orde Baru

Puisi seringkali melampaui sekadar keindahan kata; ia menjelma menjadi suara yang merekam kegelisahan kolektif dan menyuarakan perlawanan. Dalam sejarah sastra Indonesia, karya-karya W.S. Rendra dan Wiji Thukul menjadi contoh nyata bagaimana puisi berfungsi sebagai respons sosial terhadap tekanan politik dan represi yang membatasi kebebasan bersuara.

Dua Era, Dua Gaya Perlawanan

W.S. Rendra, melalui puisinya “Aku Tulis Pamflet Ini”, merefleksikan masa ketika kebebasan berpendapat mulai menyempit, namun belum sepenuhnya tertutup. Ia menggambarkan situasi sosial yang penuh kecurigaan, di mana kritik harus melewati jalur resmi dan pendapat umum tidak lagi terbuka. Akibatnya, suara masyarakat berubah menjadi bisik-bisik, menandakan hilangnya ruang dialog yang sehat.

Liputan informatif lainnya tersedia di Mureks. mureks.co.id

Rendra menggunakan metafora tajam seperti “sayur tanpa garam” untuk menegaskan bahwa kritik bukanlah gangguan, melainkan kebutuhan esensial dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap perlawanannya disampaikan secara reflektif dan argumentatif, menunjukkan kepercayaan pada kemungkinan dialog dan pertukaran gagasan yang wajar. Puisi baginya adalah ruang berpikir, mengajak pembaca menyadari bahwa kebebasan berpendapat adalah bagian dari martabat manusia.

Wiji Thukul: Suara Rakyat Tertindas di Ujung Orde Baru

Berbeda dengan Rendra, Wiji Thukul menulis “Bunga dan Tembok” dari kondisi sosial yang jauh lebih menekan, terutama pada akhir era Orde Baru. Saat itu, ruang kritik hampir sepenuhnya tertutup, khususnya bagi rakyat kecil. Thukul menggunakan simbol “bunga” untuk menggambarkan mereka yang dianggap mengganggu, sementara “tembok” melambangkan kekuasaan yang menindas dan membatasi ruang hidup.

Bahasa yang digunakan Thukul sangat sederhana, namun justru di situlah letak kekuatannya. Pesan perlawanan disampaikan secara langsung dan tanpa kompromi. Ia tidak berbicara sebagai individu, melainkan sebagai bagian dari “kami”, menyuarakan keyakinan kolektif bahwa penindasan tidak akan bertahan selamanya. Dalam puisinya, tidak ada lagi ajakan berdialog dengan kekuasaan, sebab ruang dialog itu sendiri telah dirampas. Perlawanan Thukul lahir dari pengalaman hidup yang keras dan nyata.

Sosiologi Sastra: Memahami Perbedaan Posisi

Melalui pendekatan sosiologi sastra, perbedaan cara berekspresi antara Rendra dan Thukul bukan sekadar persoalan gaya. Keduanya merepresentasikan posisi sosial yang berbeda dalam struktur masyarakat yang sama. Rendra, sebagai intelektual kritis, masih memiliki akses terhadap ruang wacana. Sementara itu, Thukul mewakili suara rakyat tertindas yang ruang bicaranya semakin dipersempit.

Catatan Mureks menunjukkan, kedua puisi ini dapat dibaca sebagai dua respons terhadap tekanan sosial yang serupa. Rendra menyuarakan kegelisahan melalui refleksi dan dialog, sedangkan Thukul menyuarakan keyakinan melalui perlawanan yang tegas. Perbedaan ini secara jelas memperlihatkan bagaimana sastra bekerja dan beradaptasi mengikuti perubahan situasi sosial yang melingkupinya.

Puisi Sebagai Penanda Martabat dan Kebebasan

Membaca kembali puisi-puisi W.S. Rendra dan Wiji Thukul hari ini mengingatkan kita bahwa sastra tidak pernah sepenuhnya terpisah dari zamannya. Ketika ruang berbicara masih tersedia, puisi mengajak untuk berpikir dan merenung. Namun, ketika ruang itu tertutup, puisi berubah menjadi suara yang menolak untuk diam dan menyerah.

Dalam kedua bentuk tersebut, puisi tetap hadir sebagai penanda abadi bahwa manusia akan selalu berjuang untuk mempertahankan martabat dan kebebasannya, bahkan di tengah tekanan paling berat sekalipun.

Mureks