Nasional

Mendagri Tito Karnavian: Lumpur Sisa Bencana Jadi Tanggul, Kayu untuk Hunian Tetap

Satuan Tugas (Satgas) Rehabilitasi pascabencana Sumatra merencanakan pemanfaatan material sisa bencana, yakni lumpur dan gelondongan kayu, untuk mempercepat pemulihan di lokasi terdampak. Rencana ini diungkapkan oleh Ketua Satgas Rehabilitasi yang juga Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tito Karnavian, setelah berkoordinasi dengan Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsooeddin.

Dalam konferensi pers di Kantor Kemendagri, Jakarta, pada Kamis (8/1/2026), Tito menjelaskan bahwa lumpur sisa banjir dan longsor akan dimanfaatkan sebagai tanggul sungai. “Diskusi kami dengan Pak Menhan beliau ingin agar ini digunakan sebagai tanggul. Tanggul karena kan ini banyak yang tanggul yang sudah apa, sungai kemudian sedimen ya otomatis dangkal,” ungkap Tito kepada wartawan.

Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!

Menurut Tito, ide pemanfaatan lumpur ini datang dari Menhan Sjafrie Sjamsooeddin. Tanggul yang terbuat dari sedimen lumpur diharapkan dapat menjadi benteng pelindung dari potensi bencana serupa di masa mendatang. “Pak Menhan berpendapat menyarankan supaya lumpurnya dipakai untuk jadikan tanggul untuk memperkuat jangan sampai nanti kalau ada banjir, air lagi kemudian tumpah ke kiri kanan gitu,” jelasnya.

Selain lumpur, kayu gelondongan yang terbawa arus bencana juga akan dioptimalkan. Tito menyebut, kayu-kayu tersebut diprioritaskan untuk pembangunan hunian tetap (huntap) bagi warga yang kehilangan tempat tinggal. “Kalau untuk pemanfaatan kayu itu lebih banyak mungkin diprioritaskan apa namanya itu untuk pembangunan, untuk pembangunan rumah-rumah hunian tetap (huntap) nantinya itu,” tuturnya.

Lebih lanjut, pantauan Mureks mencatat bahwa pemanfaatan kayu gelondongan ini sudah mulai dilakukan oleh masyarakat secara mandiri. Warga di beberapa lokasi, seperti Langkahan, telah menggunakan kayu-kayu tersebut untuk memperbaiki rumah atau membangun pagar yang rusak akibat terjangan banjir dan longsor. “Saya sudah melihat sendiri di Langkahan, yang banyak kayu-kayu itu sudah banyak dipakai masyarakat untuk ada yang memperbaiki rumahnya, dipotong-potong ada yang juga yang untuk bangun pagarnya,” pungkas Tito.

Mureks