Nasional

Syamsul Bakri: “Laga PSM vs Bali United Momen Hidup Mati Juku Eja di Kandang”

Dosen Pendidikan Kepelatihan Olahraga Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Syamsul Bakri, memprediksi pertandingan antara PSM Makassar dan Bali United akan berlangsung ketat. Laga lanjutan Liga 1 yang dijadwalkan pada Sabtu malam, 9 Januari 2026, di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, ini dinilai krusial sebagai ujian kebangkitan bagi tim tuan rumah.

Menurut Syamsul, pertandingan ini merupakan momentum penting bagi PSM untuk memutus tren negatif yang sedang membayangi mereka. Juku Eja, julukan PSM, saat ini berada dalam kondisi tidak ideal setelah menelan tiga kekalahan beruntun dari Malut United, Persib Bandung, dan Borneo FC.

Selengkapnya dapat dibaca melalui Mureks di laman mureks.co.id.

PSM Dihadapkan Rekor Buruk dan Tekanan Psikologis

Situasi PSM semakin diperparah dengan catatan lima pertemuan terakhir melawan Bali United yang selalu berakhir tanpa kemenangan. “Kita harus realistis melihat data. PSM sedang tidak baik-baik saja setelah menelan tiga kekalahan beruntun. Ditambah lagi, statistik head-to-head menunjukkan kita tidak pernah menang lawan Bali United di lima pertemuan terakhir,” ujar Syamsul Bakri.

Meski demikian, Syamsul menegaskan bahwa statistik masa lalu tidak selalu menjadi penentu hasil akhir. Ia melihat laga kandang ini justru dapat menjadi titik balik bagi PSM untuk keluar dari tekanan psikologis yang membayangi tim. “Statistik itu adalah masa lalu. Laga malam ini di Gelora BJ Habibie adalah momen hidup atau mati untuk memutus rantai negatif itu. Tidak ada waktu untuk meratapi kekalahan kemarin,” katanya.

Dalam ringkasan Mureks, tekanan untuk meraih kemenangan di kandang sendiri akan menjadi motivasi ganda bagi skuad Juku Eja.

Waspada Serangan Sayap dan Bola Mati Bali United

Dari analisis teknis, Syamsul menyoroti keunggulan Bali United pada sektor sayap dan efektivitas penyelesaian akhir. Tim tamu, yang kini menempati posisi kedelapan klasemen, dinilai datang dengan kepercayaan diri tinggi. Ia menekankan pentingnya disiplin lini pertahanan PSM, terutama dalam menutup ruang di sisi lapangan.

“Instruksi saya sederhana: matikan sektor sayap. Bek sayap PSM harus disiplin dan jangan biarkan pemain seperti Privat Mbarga leluasa mengirim umpan silang,” tegas Syamsul. Selain itu, ancaman Bali United melalui skema bola mati juga menjadi perhatian. “Bali United sering mencetak gol lewat bola mati. Pemain belakang PSM harus berhati-hati melakukan pelanggaran di dekat kotak penalti,” tambahnya.

Siri na Pacce sebagai Pembeda

Secara teknis, Bali United mungkin lebih diunggulkan karena tren positif mereka. Namun, Syamsul meyakini bahwa sepak bola tidak hanya tentang statistik dan kualitas individu. Faktor mental dan atmosfer kandang dapat menjadi pembeda signifikan bagi PSM, terutama dengan nilai budaya lokal.

“Sepak bola itu bukan matematika. Di sinilah peran semangat Siri na Pacce. Rasa malu kalau kalah lagi di kandang harus diubah menjadi energi ledak di lapangan,” jelas Syamsul. Ia menambahkan, pemain PSM harus tampil agresif namun tetap mengedepankan kecerdasan bermain, mengingat Bali United piawai memanfaatkan emosi dan kelengahan lawan.

Optimisme Kemenangan Tipis PSM

Meskipun beberapa pengamat memprediksi kemenangan tipis untuk Bali United, Syamsul memiliki pandangan berbeda. Ia menilai peluang PSM tetap terbuka lebar jika mampu mencetak gol cepat dan menjaga konsistensi pertahanan. “Jika PSM bisa mencetak gol cepat di babak pertama dan pertahanan solid mengantisipasi bola atas, kita bisa membalikkan prediksi,” katanya.

Syamsul menyatakan optimismenya terhadap kebangkitan PSM dalam laga ini. Ia berharap pertandingan tersebut menjadi titik balik bagi Juku Eja untuk keluar dari tekanan dan mengembalikan kepercayaan diri pemain serta pendukungnya. “Saya optimis PSM bisa bangkit dan memutus rekor buruk ini. Prediksi saya, Juku Eja menang tipis 2-1 atau minimal menahan imbang. Ewako,” tutup Syamsul Bakri.

Mureks