Operasi Absolute Resolve, manuver militer Amerika Serikat untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro, telah memicu eskalasi baru dalam dinamika geopolitik Amerika Latin. Di tengah sorotan terhadap jet tempur canggih dan helikopter operasi khusus, sebuah fakta menarik terungkap: pesawat angkut ringan-menengah CN-235, hasil pengembangan PT Dirgantara Indonesia (PTDI), memainkan peran krusial.
Laporan investigatif The New York Times mengungkap keterlibatan sekitar 150 pesawat militer AS dalam operasi ini, mencerminkan skala dan kompleksitas manuver Washington. Dari jumlah tersebut, sekitar 32 unit pesawat CN-235 dalam berbagai varian turut serta, menjalankan fungsi-fungsi paling krusial yang nyaris luput dari perhatian publik.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
CN-235: Mata dan Telinga Operasi Rahasia
Pesawat bermesin turboprop ini tidak hanya berfungsi sebagai angkut biasa. Dalam Operasi Absolute Resolve, CN-235 memerankan operasi intelijen, infiltrasi senyap, dan dukungan logistik presisi tinggi di wilayah udara yang sensitif. Di bawah komando Air Force Special Operations Command (AFSOC), platform ini dimodifikasi menjadi pesawat Signals Intelligence (SIGINT) berteknologi tinggi, lengkap dengan sensor elektronik, perangkat penyadap komunikasi, dan sistem pengintaian.
Keunggulan strategis CN-235 justru terletak pada penampilannya yang tidak mengintimidasi. Di radar pertahanan udara lawan, pesawat ini kerap terbaca sebagai pesawat kargo sipil biasa. Sifat non-provokatif ini memungkinkan penetrasi wilayah udara sensitif tanpa memicu respons militer langsung, sebuah keunggulan yang tidak dimiliki pesawat intai besar atau drone bersenjata.
Fleksibilitas dan Daya Tahan Kunci Keberhasilan
CN-235 merupakan pesawat angkut ringan–menengah hasil pengembangan PT Dirgantara Indonesia melalui kerja sama strategis dengan CASA (sekarang bagian dari Airbus Defence and Space). Pesawat ini dirancang untuk fleksibilitas maksimum, mampu mengangkut muatan hingga 4.700 kilogram, membawa 49 penumpang, atau 34 pasukan lintas udara dalam satu misi.
Kemampuan Short Take-Off and Landing (STOL) menjadi aset tak ternilai. CN-235 mampu beroperasi di landasan pendek dan tidak beraspal, bahkan medan kasar seperti rumput, salju, pasir, dan landasan lain. Ini menjadikannya platform ideal bagi operasi rahasia di wilayah dengan infrastruktur terbatas, seperti pinggiran Caracas dan kawasan hutan Venezuela.
Ditenagai dua mesin turboprop General Electric CT7-9C dengan tenaga masing-masing 1.750 SHP, CN-235 memiliki performa hot and high yang unggul. Efisiensi bahan bakarnya memungkinkan durasi terbang hingga 11 jam, memberi keunggulan signifikan dalam misi pengintaian berkelanjutan tanpa perlu sering kembali ke pangkalan.
Jejak Indonesia dalam Teknologi Dirgantara Global
Secara faktual, unit CN-235 yang dioperasikan AFSOC—diproduksi di fasilitas CASA di Sevilla, Spanyol—termasuk yang digunakan oleh Skadron Operasi Khusus ke-427. Namun, fakta ini tidak menghapus identitas historis pesawat tersebut sebagai produk rekayasa bersama dengan DNA Indonesia yang kuat.
CN-235 lahir dari visi besar B.J. Habibie tentang kemandirian teknologi dirgantara negara berkembang. Melalui konsorsium Airtech, desain pesawat ini dikembangkan dengan pembagian kerja 50:50 antara Bandung dan Sevilla. Setiap lekuk sayap dan struktur aerodinamisnya mencerminkan standar rekayasa tinggi yang dirancang untuk kebutuhan global.
Menurut pantauan Mureks, penggunaan CN-235 oleh militer Amerika Serikat—pihak yang memiliki kekuatan udara paling maju di dunia—merupakan bentuk pengakuan implisit atas keandalan desain tersebut. Dalam perspektif diplomasi kedirgantaraan, ini adalah silent endorsement yang nilainya melampaui kontrak dagang atau pameran alutsista.
CN-235 telah lama menjadi komoditas strategis global, digunakan oleh berbagai negara mulai dari negara-negara ASEAN, Pakistan, Uni Emirat Arab, Korea Selatan, hingga negara-negara Afrika seperti Burkina Faso dan Senegal. Minat dari Timur Tengah, Amerika Latin, dan Eropa menegaskan posisinya sebagai platform multiguna yang adaptif.
Dalam ringkasan Mureks, pesawat ini mengisi celah strategis yang tidak dapat diisi oleh drone bersenjata atau jet tempur berkecepatan tinggi, yakni kebutuhan akan kehadiran udara yang persisten, senyap, dan fleksibel. Keterlibatan CN-235 menunjukkan bagaimana rantai pasok pertahanan global bersifat lintas batas, menciptakan interdependensi strategis yang kompleks.
Bagi Indonesia, fakta ini seharusnya dibaca sebagai peluang strategis. CN-235 bukan sekadar produk ekspor, melainkan juga strategic leverage dalam diplomasi pertahanan global. Pengakuan operasional dari AS dapat dimanfaatkan untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai industri dirgantara dunia.
Operasi Absolute Resolve juga mengingatkan bahwa peperangan modern tidak selalu dimenangkan oleh senjata paling canggih, tetapi oleh platform yang paling adaptif. CN-235 membuktikan bahwa fleksibilitas, daya tahan, dan kemampuan kamuflase strategis sering kali lebih menentukan daripada kecepatan dan daya hancur semata. Ia menjembatani dunia sipil dan militer, operasi kemanusiaan dan misi intelijen, serta logistik dan pengintaian strategis, dengan jejak Indonesia yang tak terhapuskan.






