Nasional

Leptospirosis di DIY: 38 Warga Meninggal dari 453 Kasus Sepanjang Januari-November 2025

Dinas Kesehatan (Dinkes) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat angka kasus leptospirosis yang signifikan sepanjang Januari hingga November 2025. Sebanyak 453 kasus teridentifikasi, dengan 38 di antaranya berujung pada kematian.

Menurut data yang dihimpun Dinkes DIY, Kabupaten Bantul menjadi wilayah dengan kasus tertinggi, yakni 227 kasus dan 12 kematian. Disusul Kabupaten Sleman dengan 118 kasus dan 11 kematian.

Baca liputan informatif lainnya di Mureks. mureks.co.id

Sementara itu, Kabupaten Kulon Progo mencatat 49 kasus dengan 6 kematian, Kota Yogyakarta 32 kasus dengan 8 kematian, dan Kabupaten Gunungkidul 27 kasus dengan 1 kematian.

Faktor Risiko dan Penularan Leptospirosis

Kepala Dinkes DIY, Gregorius Anung Trihadi, menjelaskan bahwa faktor utama penyebaran penyakit ini adalah tikus dan lingkungan yang terkontaminasi oleh hewan pengerat tersebut. Ia memaparkan perbedaan risiko di perkotaan dan pedesaan.

“Kalau di kota itu agak sedikit berbeda ya, karena kalau di kota kan tidak ada sawah, di sana mungkin banyak tikus yang di pasar, di sampah dan sebagainya. Kalau yang di pedesaan itu faktor risikonya kan biasanya dari tikus yang ada di persawahan,” ujar Anung saat ditemui di RS Dr. Sardjito pada Kamis (8/1).

Meskipun lokasi paparan berbeda, Anung menegaskan bahwa mekanisme penularan leptospirosis pada dasarnya sama. Penularan terjadi ketika manusia melakukan kontak dengan lingkungan yang tercemar tikus, terutama jika terdapat luka pada tubuh.

Luka kecil tersebut, menurut Mureks, bukan penyebab penyakit, melainkan menjadi pintu masuk bakteri leptospira ke dalam tubuh. “Luka kecil itu dia port the entry atau tempat masuk. Kumannya kan ada di lingkungan tadi yang kemudian dibawa tikus tadi. Masuknya biasanya mudah kalau dia ada luka di dalam tubuh,” jelasnya.

Pencegahan dan Deteksi Dini

Untuk menekan risiko penularan, Dinkes DIY mengimbau masyarakat agar selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) saat beraktivitas di lingkungan yang berisiko. Contohnya, penggunaan sepatu bot sangat penting di area persawahan, sementara sarung tangan diperlukan saat mengelola sampah di perkotaan.

Selain pencegahan, deteksi dini juga menjadi kunci untuk menurunkan angka kematian akibat leptospirosis. Masyarakat diimbau untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam dan memiliki riwayat aktivitas di lingkungan berisiko.

Anung memastikan bahwa seluruh puskesmas di DIY telah memiliki kemampuan untuk melakukan deteksi dini leptospirosis. “Ketika kemudian dia sakit, katakanlah demam dan sebagainya, dan dia punya faktor risiko itu, saya habis masuk ke sawah, punya luka, segera berobat. Karena kalau segera berobat, penanganan yang lebih dini itu bisa dicegah,” pungkasnya.

Mureks