JAKARTA – Kremlin meyakini bahwa serangkaian serangan drone yang dilancarkan Ukraina baru-baru ini bertujuan untuk mengincar Presiden Rusia Vladimir Putin. Namun, klaim tersebut segera dibantah oleh pejabat keamanan nasional Amerika Serikat, yang menyatakan Ukraina tidak menargetkan Putin atau kediamannya.
Menurut laporan The Wall Street Journal pada Rabu (31/12), mengutip seorang pejabat AS yang mendapat pengarahan intelijen, kesimpulan tersebut didukung oleh penilaian Badan Intelijen Pusat (CIA). CIA menyatakan tidak ada upaya serangan yang ditujukan langsung kepada Putin. Pejabat AS itu menjelaskan, Ukraina berniat menyerang target militer yang sebelumnya pernah menjadi sasaran Kyiv, yang kebetulan terletak di wilayah yang sama dengan kediaman Putin, namun lokasinya tidak berdekatan. Mureks mencatat bahwa perbedaan narasi ini menjadi poin krusial dalam eskalasi konflik.
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha pada Selasa (30/12) menegaskan bahwa Rusia gagal menyajikan bukti kredibel apa pun untuk mendukung klaimnya mengenai dugaan serangan drone Ukraina terhadap kediaman presiden di wilayah Novgorod.
Presiden AS Donald Trump pada Rabu (31/12) juga tampak menepis klaim Rusia tersebut. Ia membagikan tautan editorial New York Post dengan judul: “Gertakan ‘serangan’ Putin menunjukkan Rusia adalah pihak yang menghalangi perdamaian.” Trump dilaporkan menyampaikan kekhawatiran atas insiden tersebut dalam percakapan telepon dengan Putin, meskipun kemudian ia mengatakan ada kemungkinan serangan itu “tidak terjadi.”
Ketika ditanya apakah AS memiliki konfirmasi bahwa serangan tersebut benar-benar terjadi, Trump mengatakan pada Minggu (28/12), bersama Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, bahwa kemungkinan itu memang ada. “Anda mengatakan mungkin serangan itu tidak terjadi—itu juga mungkin, saya kira, tetapi Presiden Putin mengatakan kepada saya pagi ini bahwa itu terjadi,” ujarnya.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sendiri membantah keras klaim tersebut. Menurut Zelenskyy, tuduhan itu bertujuan “merusak seluruh pencapaian dari upaya diplomatik bersama” dengan tim Trump serta “membenarkan serangan tambahan terhadap Ukraina.”
Prospek Perdamaian dan Keteguhan Ukraina
Di tengah tuduhan dan bantahan tersebut, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan negaranya tinggal “10 persen” lagi untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang dengan Rusia. Namun, ia menegaskan bahwa Ukraina tidak akan menerima “kesepakatan lemah” yang berpotensi memperpanjang konflik.
Dalam pesan video di Telegram pada Rabu (31/12) malam, Zelenskyy mengatakan perjanjian damai tersebut sudah “90 persen siap.” “Sepuluh persen masih tersisa. Dan itu jauh lebih dari sekadar angka. Itulah 10 persen yang akan menentukan nasib perdamaian, nasib Ukraina, dan Eropa,” katanya.
Zelenskyy menekankan bahwa Ukraina menginginkan perang berakhir, tetapi tidak akan menyerah begitu saja pada tuntutan pihak lain. “Kami ingin perang berakhir, bukan Ukraina yang diakhiri,” katanya, menegaskan. Ia mengakui besarnya dampak perang yang berlangsung hampir empat tahun, membuat rakyat Ukraina merasa lelah, tetapi tetap teguh. Ia menekankan dirinya tidak akan menandatangani perjanjian apa pun yang merugikan negaranya atau sekadar menunda pertempuran.
Menurut Zelenskyy, meneken “kesepakatan yang lemah hanya akan menyulut perang.” “Tanda tangan saya akan dibubuhkan pada kesepakatan yang kuat,” katanya, seraya menambahkan bahwa seluruh upaya diplomatik saat ini difokuskan untuk mencapai tujuan itu.






