Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan industri pengolahan nonmigas (IPNM) atau manufaktur akan berkontribusi sebesar 18,56 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2026. Target ini disertai proyeksi pertumbuhan di angka 5,51 persen, sebagaimana disampaikan Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza di Jakarta, Rabu (31/12). Pantauan Mureks menunjukkan bahwa komitmen ini menjadi fokus utama Kemenperin untuk tahun mendatang.
Dalam konferensi pers tersebut, Faisol Riza menegaskan komitmen Kemenperin untuk menjadikan sektor IPNM sebagai penggerak utama transformasi ekonomi nasional pada tahun depan. Arah kebijakan yang diambil difokuskan pada penguatan struktur ekonomi, peningkatan daya saing industri, serta keberlanjutan pembangunan.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Faisol Riza juga mengungkapkan target ambisius untuk sektor ekspor. “Kontribusi ekspor produk IPNM terhadap total ekspor ditargetkan naik sekitar 74,85 persen,” kata Wamenperin Faisol Riza, seperti yang Mureks mencatat bahwa disampaikan dalam kesempatan itu. Selain mendorong ekspor, sektor industri juga diharapkan menjadi penopang utama penciptaan lapangan kerja. Pada tahun 2026, kontribusi penyerapan tenaga kerja industri ditargetkan mencapai 14,68 persen dari total tenaga kerja nasional, dengan tingkat produktivitas yang diproyeksikan mencapai Rp126,20 juta per orang per tahun.
Untuk mendukung pencapaian target-target tersebut, investasi di sektor industri pengolahan nonmigas diproyeksikan mencapai Rp852,90 triliun. Dalam upaya pemerataan pembangunan, Kemenperin menargetkan peningkatan kontribusi nilai tambah industri di luar Pulau Jawa hingga 33,25 persen. Langkah ini diambil untuk memperkuat struktur industri yang lebih inklusif dan berimbang antarwilayah. Di sisi lain, sektor industri juga diarahkan untuk berkontribusi signifikan terhadap penurunan emisi gas rumah kaca, dengan target sebesar 6,79 juta ton CO2 ekuivalen pada industri prioritas.
Proyeksi Pertumbuhan Sektor Industri Nonmigas 2026
Dari sisi komoditas, proyeksi pertumbuhan industri pengolahan nonmigas pada tahun 2026 menunjukkan kinerja yang solid. Industri logam dasar diproyeksikan mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 14 persen. Disusul oleh industri pengolahan lainnya dan jasa reparasi sebesar 6,45 persen, industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 6,26 persen, serta industri makanan dan minuman sebesar 6,06 persen.
Kontribusi Industri terhadap PDB Nasional
Sementara itu, dari sisi kontribusi terhadap PDB, industri makanan dan minuman tetap menjadi penopang utama dengan kontribusi terbesar mencapai 7,64 persen. Selanjutnya, disusul oleh industri kimia, farmasi, dan obat tradisional sebesar 1,95 persen, industri barang dari logam dan elektronika sebesar 1,73 persen, industri alat angkutan sebesar 1,41 persen, serta industri logam dasar sebesar 1,30 persen.
Sektor Prioritas: Agro dan IKFT
Lebih lanjut, pada tahun 2026 sektor industri agro diproyeksikan tetap menjadi penopang utama struktur industri nasional. Subsektor ini diperkirakan tumbuh 5,23 persen dan berkontribusi 9,6 persen terhadap PDB nasional, dengan penyerapan tenaga kerja mencapai 10,98 juta orang. Nilai investasi industri agro diproyeksikan sebesar Rp251,6 triliun, dengan ekspor mencapai 68,62 miliar dolar Amerika Serikat (AS) dan tingkat utilisasi 74,62 persen.
Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) diproyeksikan tumbuh 4,77 persen dengan kontribusi 4,10 persen terhadap PDB nasional serta penyerapan 7,39 juta tenaga kerja. Nilai ekspor sektor ini diperkirakan mencapai 58,17 miliar dolar AS dengan investasi Rp198 triliun.






