Tren

Avengers: Doomsday Dihujat Kritikus, Disebut ‘Roller Coaster Emosi Tanpa Rem’

JAKARTA – Film terbaru dari semesta Marvel, Avengers: Doomsday, langsung memicu perdebatan panas setelah resmi dirilis di bioskop global pada Kamis (1/1/2026). Sejumlah kritikus film internasional menilai karya ini gagal menjaga konsistensi cerita dan justru terjebak dalam permainan tonal yang membingungkan.

Sejak penayangan perdananya, Avengers: Doomsday ramai dibahas di berbagai media hiburan dan platform ulasan film. Sorotan utama mengarah pada percampuran unsur serius dan komedi yang dianggap tidak seimbang dan kerap saling bertabrakan.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Beberapa pengulas menyebut film ini terlihat ingin tampil gelap dan emosional, namun tiba-tiba mematahkan suasana dengan humor yang terasa dipaksakan. Akibatnya, momen-momen penting yang seharusnya kuat secara dramatis justru kehilangan daya pukulnya.

Salah satu kritikus bahkan menggambarkan pengalaman menonton film ini seperti naik roller coaster emosi tanpa rem. “Ada bagian di mana saya benar-benar bingung harus bereaksi bagaimana,” tulis seorang pengulas dalam ulasannya, seperti yang Mureks catat. Menurutnya, Avengers: Doomsday tidak tegas menentukan identitasnya sebagai tontonan epik atau komedi ringan.

Kritik tersebut turut menyeret penampilan Chris Hemsworth sebagai Thor. Meski aktingnya dinilai tetap solid, banyak pihak menilai karakter God of Thunder itu tidak mendapat ruang yang cukup untuk berkembang secara emosional.

Naskah film disebut terlalu sibuk menyelipkan lelucon, sehingga sisi kepemimpinan dan konflik batin Thor sebagai anggota Avengers kurang tergali. Padahal, karakter ini selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu figur paling kompleks di Marvel Cinematic Universe.

Sejumlah pengulas bahkan menilai Avengers: Doomsday seperti ragu memilih jalur cerita. Film ini ingin terasa heroik dan megah, tetapi sering kali membatalkan ketegangan dengan humor yang muncul di waktu kurang tepat. Kondisi tersebut membuat alur cerita terasa patah-patah dan tidak mengalir mulus. Beberapa adegan emosional kehilangan makna karena atmosfernya cepat berubah menjadi ringan dan bercanda.

Meski begitu, Avengers: Doomsday tidak sepenuhnya tenggelam dalam kritik negatif. Banyak ulasan tetap memberi pujian pada skala produksi yang besar dan visual yang memanjakan mata. Adegan laga, efek visual, serta koreografi pertarungan dinilai masih berada di level blockbuster Marvel pada umumnya. Penonton tetap disuguhi aksi masif dan spektakel yang menjadi ciri khas waralaba Avengers.

Namun, bagi sebagian kritikus, keunggulan visual tersebut tidak cukup menutupi kelemahan cerita. Ekspektasi tinggi terhadap film Avengers membuat kekurangan tonal ini terasa jauh lebih menonjol. Beberapa penonton berharap Avengers: Doomsday bisa menggali perjalanan emosional para karakter utamanya secara lebih dalam. Konflik internal dan dinamika tim dinilai lebih menarik dibandingkan deretan lelucon instan.

Mureks