Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, sebagai pusat produsen ikan lele dalam kurun waktu dua hingga tiga tahun mendatang. Upaya ini didukung dengan implementasi program budidaya tematik bioflok lele di tiga kecamatan.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, menegaskan komitmennya. “Kami akan dukung Pemda Boyolali sehingga nanti di banyak desa yang kami kembangkan untuk kegiatan budidaya lele, sehingga ujungnya menjadikan Boyolali sebagai daerah penghasil protein dari ikan lele yang cukup kuat,” ungkap Trenggono dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1/2026).
Mureks menghadirkan beragam artikel informatif untuk pembaca. mureks.co.id
Program budidaya tematik bioflok ini tersebar di Kecamatan Sambi, Kecamatan Andong, dan Kecamatan Wonosamodro. KKP menyiapkan 24 kolam bioflok di setiap lokasi, lengkap dengan 60.000 ekor benih dan pakan. Selain itu, sarana prasarana pendukung produksi seperti mesin aerasi, vitamin ikan, hingga genset juga turut disediakan.
Seluruh bantuan budidaya perikanan tematik tersebut dikelola oleh pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai unit usaha. Mureks mencatat bahwa setiap lokasi ditargetkan mampu menghasilkan 5 ton ikan lele dengan waktu produksi sekitar 2-3 bulan.
Trenggono menambahkan, program ini memiliki dua tujuan utama. “Program ini selain untuk menggerakkan ekonomi di desa, juga sebagai upaya pemerintah meningkatkan gizi masyarakat. Karena ikan lele ini proteinnya cukup tinggi. Ini juga salah satunya untuk mendukung program MBG,” jelasnya.
Saat ini, produksi ikan lele di Kabupaten Boyolali telah mencapai lebih dari 30.000 ton per tahun, yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga diperdagangkan ke luar kabupaten. Kebutuhan pasar lokal diprediksi akan terus meningkat seiring implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang diperkirakan membutuhkan lebih dari 3.000 porsi makanan setiap hari per kecamatan untuk pelajar.
Bupati Boyolali, Agus Irawan, menyatakan kesiapan pemerintah daerah untuk mengawal program ini. “Dari kedinasan kami, akan turun mengawal dan akan ada pendampingan-pendampingan, sehingga hasil panen bisa memaksimal untuk mencapai target sentra lele. Selain itu hasil produksi untuk menyuplai SPPG yang ada di Kabupaten Boyolali sehingga perputaran ekonomi diharapkan ekonomi bisa kuat di tingkat desa,” ujar Agus Irawan di lokasi.
Implementasi tiga program budidaya tematik lele ini semakin memperkuat posisi Boyolali sebagai daerah penghasil lele. Kabupaten ini juga dikenal memiliki kampung budidaya lele di Kecamatan Sawit yang selama ini menghasilkan lele berkualitas. KKP sendiri pada tahun 2025 telah mengembangkan 100 lokasi budidaya tematik untuk komoditas lele dan nila. Program ini tersebar di sejumlah daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, serta DIY, dengan pengelolaan diserahkan kepada pengurus Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.






