Nasional

Ketika Ikatan Perantau Memudar: Menelisik Akar Masalah Kemunduran Paguyuban di Tengah Masyarakat Urban

Merantau dari kampung halaman ke kota besar seringkali dilandasi harapan akan kehidupan yang lebih baik. Dalam upaya membangun jaringan dan mengembangkan potensi diri, perkumpulan atau paguyuban kedaerahan kerap menjadi tumpuan bagi para perantau. Konsep memperluas rezeki melalui perluasan pergaulan (networking) menjadi daya tarik utama, di mana perkenalan yang awalnya biasa saja bisa berkembang menjadi ikatan kekeluargaan yang erat.

Dahulu, keakraban antar sesama perantau, bahkan yang satu suku atau marga, terasa jauh lebih intens di tanah rantau dibandingkan saat masih di kampung halaman. Lingkaran mayoritas di kampung membuat ikatan tersebut kurang menonjol, namun di perantauan, pertemuan dengan sesama darah sekampung mampu mengobati rasa rindu dan memberikan nuansa pulang ke rumah.

Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id

Ikatan ini kemudian didorong dan diperkuat melalui pembentukan paguyuban atau persatuan kedaerahan, dengan tujuan utama menjalin silaturahmi. Paguyuban didefinisikan sebagai bentuk perkumpulan sosial yang anggotanya terikat oleh hubungan batin murni, bersifat alamiah, dan kekal, berakar dari kata “guyub” yang berarti rukun atau berkumpul.

Antusiasme Awal dan Tantangan yang Muncul

Seiring waktu, paguyuban-paguyuban ini berkembang pesat, menyebar dari mulut ke mulut hingga membentuk komunitas yang ramai. Pada awalnya, antusiasme dan simpati dari para anggota sangat tinggi. Namun, menurut pengalaman yang lalu, perlu ada evaluasi mendalam terhadap paguyuban karena beberapa faktor dapat menyebabkan organisasi kedaerahan ini surut, bahkan bubar.

Salah satu penyebab utama, Mureks mencatat, adalah munculnya ego pribadi, arogansi, dan kecenderungan untuk saling pamer kekayaan di antara anggota. Fenomena ini menjadi benih perpecahan yang menggerogoti esensi paguyuban.

Disparitas Ekonomi dan Beban Keuangan

Tidak semua anggota paguyuban memiliki kondisi ekonomi yang setara; ada yang kaya, menengah, bahkan berada dalam kondisi ekstrem. Bagi mereka yang berkecukupan, perkumpulan kedaerahan ini justru menjadi wadah untuk memperlihatkan hasil kerja keras dan pencapaian finansial mereka. Sebaliknya, anggota dengan ekonomi pas-pasan seringkali merasa minder dan dilema, sehingga kurang bersimpati terhadap organisasi.

Motif paguyuban yang seharusnya berlandaskan silaturahmi, bergeser menjadi semacam “audisi dan audit harta kekayaan”. Lingkaran pergaulan yang tidak setara secara ekonomi ini menjadi tidak nyaman bagi sebagian anggota.

Selain pamer kekayaan dan kekuasaan, penyebab lain kemunduran paguyuban adalah banyaknya tagihan atau iuran, bahkan pemberlakuan sistem denda bagi anggota yang jarang hadir. Kebiasaan ini, yang sudah menjadi rahasia umum, memicu “saling sikut dompet” di mana anggota dipaksa mengeluarkan uang.

Bagi masyarakat kurang mampu, beban ini sangat memberatkan. Rob Nixon menggambarkan fenomena ini sebagai ‘kekerasan lambat’ — kekerasan yang terjadi bertahap, tidak spektakuler seperti bom atau tembakan, tetapi sama-sama mematikan secara finansial dan sosial. Mureks menyoroti bahwa kondisi ini seringkali membuat dapur sebagian anggota menjerit karena belanja kebutuhan pokok tersedot untuk iuran paguyuban.

Dampak pada Kehadiran dan Solidaritas

Beban finansial dan perasaan tidak nyaman ini berujung pada menurunnya partisipasi anggota. Seharusnya, anggota merasa senang ketika ada perkumpulan yang terjadwal, bukan sebaliknya merasa berat dan akhirnya mengirim pesan izin tidak bisa hadir melalui WhatsApp. Kenyataannya, alasan kesibukan seringkali hanya dalih di balik perasaan mengganjal yang menghentikan langkah mereka untuk datang.

Dampak lain yang menyedihkan adalah kesulitan yang dialami tuan rumah. Beban berat tuan rumah seharusnya hilang seketika tamu-tamu berdatangan, namun kenyataannya sedikit yang hadir. Makanan yang sudah disiapkan banyak-banyak seringkali terbuang sia-sia ke tempat sampah karena tidak ada yang makan, tidak sesuai ekspektasi. Makanan manusia berubah menjadi makanan ayam dan hewan-hewan lainnya.

Membangun Paguyuban yang Mengayomi

Paguyuban yang ideal adalah yang mampu mengayomi para anggotanya, menjaga konsistensi, dan mengelola status sosial dengan arif. Status sosial seharusnya tidak menjadi benalu yang membuat anggota mundur satu per satu. Perbedaan status sosial memang ada sebagai prestise, seperti yang disebutkan oleh Patrick Schenk, Muller, dan Keiser (2024) yang menunjukkan bahwa “status as prestige, honor, or esteem attributed” (status sebagai prestise, kehormatan, atau penghargaan).

Namun, kemaslahatan organisasi harusnya dijadikan pokok utama dalam kemajuan paguyuban kelompok masyarakat, bukan sekadar ajang mempertontonkan status sosial. Dengan demikian, paguyuban dapat kembali pada esensinya sebagai wadah silaturahmi dan dukungan bagi para perantau.

Mureks