Nasional

Ketika Algoritma Mendikte Standar Hidup: Ancaman bagi Kebebasan Memaknai Diri

Baru beberapa menit berselancar di platform media sosial seperti Instagram atau TikTok, tak jarang muncul perasaan tertinggal. Fenomena ini bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari sebuah sistem yang secara halus membentuk standar hidup baru bagi penggunanya. Standar ini, alih-alih berasal dari realitas personal, justru dibentuk oleh algoritma yang menguasai dunia digital.

Qothrunnada Fasiyah, seorang mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam analisisnya menyoroti bagaimana media sosial kini tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga secara fundamental memengaruhi definisi kesuksesan dan kebahagiaan. Menurutnya, apa yang kerap kita lihat di linemasa adalah potret kehidupan yang telah dikurasi dan dipoles, jauh dari gambaran utuh.

Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.

Algoritma: Pembentuk Realitas Semu

Logika di balik kerja media sosial cukup sederhana: menampilkan konten yang paling menarik perhatian. Namun, yang dianggap “menarik” sering kali adalah representasi kehidupan yang sempurna—kesuksesan di usia muda, pekerjaan impian, gaya hidup estetik, atau kebahagiaan yang tak berujung. Proses panjang, kegagalan, atau kehidupan yang berjalan biasa saja, cenderung kurang mendapat sorotan dan sulit menjadi viral.

Akibatnya, apa yang secara konsisten muncul di linemasa perlahan-lahan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan seharusnya dicapai. Di sinilah algoritma memainkan peran krusial. Ia tidak hanya mengatur aliran informasi, tetapi juga secara tidak langsung membentuk cara pandang kita terhadap hidup. Standar kebahagiaan, kesuksesan, bahkan rasa “cukup”, bergeser mengikuti narasi yang dominan di dunia maya.

Dampak pada Generasi Muda dan Nilai Sosial

Permasalahan ini menjadi lebih serius ketika standar hidup yang dibentuk algoritma tidak selaras dengan realitas mayoritas masyarakat. Tidak semua individu memiliki akses pendidikan yang setara, modal ekonomi yang memadai, atau kesempatan yang sama. Namun, algoritma cenderung mengabaikan konteks tersebut, menyamaratakan ekspektasi, dan secara implisit membuat kegagalan terasa seperti kesalahan pribadi.

Fenomena ini sangat terasa di kalangan generasi muda. Banyak yang merasa tidak produktif, kurang berhasil, bahkan “gagal” hanya karena membandingkan diri dengan konten orang lain. Padahal, yang dibandingkan bukanlah realitas seutuhnya, melainkan versi terbaik dari kehidupan seseorang yang sengaja ditampilkan untuk konsumsi publik. Mureks mencatat bahwa tekanan ini dapat memicu masalah kesehatan mental dan krisis identitas di kalangan remaja dan dewasa muda.

Lebih jauh, algoritma juga memengaruhi nilai-nilai yang kita anggap penting. Kesuksesan sering kali direduksi menjadi hal-hal yang mudah diukur dan terlihat: jumlah pengikut, penghasilan fantastis, atau gaya hidup konsumtif. Sementara itu, nilai-nilai seperti proses belajar, ketekunan, kontribusi sosial, dan kebermanfaatan jangka panjang, kerap kurang mendapat perhatian karena tidak selalu menarik secara visual atau viral.

Literasi Digital sebagai Kunci

Tanpa disadari, media sosial telah bertransformasi menjadi arena pembentukan norma sosial baru. Apa yang sering muncul dianggap wajar, sementara yang jarang terlihat dianggap tertinggal. Kita pun mulai menyesuaikan diri, bukan berdasarkan kebutuhan atau nilai pribadi, melainkan demi memenuhi standar yang dibentuk oleh algoritma.

Namun, menyalahkan algoritma sepenuhnya bukanlah solusi. Algoritma adalah produk dari sistem ekonomi digital yang berorientasi pada perhatian dan keuntungan. Tantangan terbesar justru terletak pada kita sebagai pengguna: apakah kita menyadari bahwa apa yang kita lihat bukanlah cerminan realitas secara utuh?

Literasi digital menjadi kunci penting dalam menghadapi fenomena ini. Kesadaran bahwa media sosial beroperasi dengan logika tertentu dapat membantu kita mengambil jarak dari tekanan standar hidup semu. Tidak semua yang viral harus ditiru, dan tidak semua yang terlihat sukses benar-benar mencerminkan kehidupan yang utuh dan bermakna.

Pada akhirnya, standar hidup seharusnya lahir dari refleksi diri, kemampuan, dan konteks masing-masing individu. Hidup bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat terlihat berhasil, melainkan sebuah perjalanan unik bagi setiap orang. Jika kita terus membiarkan algoritma mendikte definisi bahagia dan sukses, maka yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga kebebasan untuk memaknai hidup dengan cara kita sendiri.

Mureks