Jauh sebelum Indonesia merdeka, wilayah Nusantara telah menjadi magnet bagi para pedagang dari berbagai belahan dunia, termasuk dari jazirah Arab. Salah satu komoditas yang paling dicari dan bernilai tinggi adalah kapur barus, sebuah bahan wewangian yang bahkan disebut dalam kitab suci Al-Quran.
Kapur barus, yang dalam tradisi Arab dikenal dengan istilah kaafuur, memiliki makna mendalam. Sebagaimana termuat dalam Surat Al-Insan ayat 5, yang artinya, “Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur.” Para ulama menafsirkan kaafuur sebagai kapur atau kamper, zat putih dan wangi yang diekstrak dari pohon kayu, lazim tumbuh di hutan-hutan Pulau Sumatra.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Ulama kondang Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar halaman 7790, menjelaskan bahwa kaafuur lebih populer dengan sebutan Kapur Barus. Penting untuk membedakan kamper alami ini dengan pewangi sintetis berbentuk bulat kecil berwarna putih yang merupakan hasil sintesis kimia dari Naphtalene (C10H8). Kamper yang dimaksud dalam Al-Quran adalah tanaman populer di Arab dengan nama Latin Dryobalanops aromatica, yang dikenal sangat wangi dan menyehatkan jika diminum.
Pencarian Sumber Wangi dari Timur
Masyarakat Arab tidak mudah memperoleh tanaman Dryobalanops aromatica karena bukan tanaman asli di wilayah mereka. Kondisi ini mendorong para pedagang Arab untuk mencari pusat tanaman kamper, yang singkat cerita membawa mereka ke wilayah antah berantah di bumi bagian Timur, yang kini dikenal sebagai Indonesia.
Arkeolog Edward Mc. Kinnon, dalam karyanya Ancient Fansur, Aceh’s Atlantis (2013), menyebutkan bahwa jalinan perdagangan yang intens membuat orang Arab lambat laun mengetahui bahwa pusat tanaman kamper berada di Indonesia, tepatnya di Pulau Sumatra. Secara spesifik, lokasi sentra kamper itu berada di Fansur, yang kini dikenal sebagai Barus, di wilayah administrasi Sumatera Utara.
Barus telah berulang kali disebut oleh para pedagang Arab sebagai pelabuhan penting yang mengangkut berbagai komoditas. Ibn Al-Faqih, seorang pedagang Arab pada era 902 Masehi, sudah menyebut Fansur sebagai wilayah penghasil kapur barus, cengkih, pala, dan kayu cendana. Kemudian, ahli geografi Ibn Sa’id al Magribi pada abad ke-13 secara spesifik merinci bahwa Fansur penghasil kamper berasal dari Pulau Sumatra. Bahkan, ahli Romawi, Ptolemy, telah menyebut nama Barus pada abad ke-1 Masehi.
Mureks mencatat bahwa temuan-temuan sejarah ini menegaskan posisi strategis Barus sebagai pusat komoditas berharga di Nusantara.
Jalur Pelayaran dan Penyebaran Islam
Atas dasar potensi komoditas ini, banyak warga Arab, khususnya para pedagang, berbondong-bondong melakukan pelayaran jauh dari Teluk Persia, melewati Ceylon (Sri Lanka), lalu tiba di Pantai Barat Sumatra untuk mendapatkan kamper. Sejarawan Claude Guillot dalam Barus Seribu Tahun yang Lalu (2008) menjelaskan bahwa mereka biasa membawa kapal besar untuk mengangkut kapur barus dalam jumlah banyak, yang kemudian dijual dengan harga tinggi di pasar internasional.
Perlahan, kedatangan orang Arab ke Sumatra semakin meningkat setelah kapur barus asal Barus terbukti memiliki mutu tinggi, mengalahkan kamper dari Malaya dan Kalimantan. Pada titik inilah, Barus tidak hanya terbukti sebagai daerah penghasil kamper, tetapi juga berkembang menjadi pelabuhan penting di Sumatra.
Kedatangan para pedagang Arab ke Barus tidak hanya bermotif perdagangan, tetapi juga turut menyebarkan agama Islam. Terjadi proses Islamisasi terhadap penduduk lokal di tempat-tempat kedatangan kapal Arab, seperti Barus (Fansur), Thobri (Lamri), dan Haru. Jejak awal Islam di Barus diduga kuat tercatat pada abad ke-7 Masehi, dibuktikan dengan keberadaan kompleks makam kuno Mahligai di Barus yang tertera nisan dari abad ke-7 Masehi.
Dari bukti-bukti ini, muncul salah satu teori kedatangan Islam di Indonesia, meskipun masih menimbulkan perdebatan di kalangan sejarawan. Namun, fakta bahwa lambat laun terjadi proses penyebaran Islam di sana tidak dapat diabaikan. Pedagang-pedagang Muslim di Barus berhasil membentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan dunia Arab dengan Indonesia, menjadikan Tanah Air sudah terkenal sejak dahulu kala.






