Di tengah keramaian Jalan Dago, Bandung, Jawa Barat, sebuah gerobak lumpia basah menarik perhatian bukan hanya karena aromanya yang menggoda, tetapi juga karena penampilan sang penjual. Agus Hidayat (42), nama penjual tersebut, tampil mencolok dengan setelan jas rapi, kemeja bersih, dasi merah, lengkap dengan pin kujang emas di kerah, serta sepatu pantofel mengilap.
Penampilan formal Agus ini sangat kontras dengan lapak sederhana tempatnya menjajakan lumpia basah. Gaya nyentriknya ini bahkan kerap membuat pembeli salah sangka, mengira ia adalah anggota Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) atau intelijen yang sedang menyamar.
Klik mureks.co.id untuk tahu artikel menarik lainnya!
Berawal dari Tantangan TikTok
Agus menceritakan, ide mengenakan jas saat berjualan bermula dari kebiasaannya melakukan siaran langsung di TikTok bersama teman-temannya. “Awal mulanya sih ada siaran di TikTok, berempat sama rekan. Kita kalau live semuanya pakai jas seperti ini. Awalnya dari situ sih, challenge-challenge-an,” ujar Agus saat ditemui pada Jumat (2/1/2026).
Awalnya, ia hanya mengenakan jas dua kali seminggu, setiap hari Jumat dan Minggu. Namun, dalam dua bulan terakhir, kebiasaan itu berubah. “Dalam waktu 1 minggu itu dulu mah 2 kali ya, hari Jumat sama hari Minggu. Nah, kalau sekarang tiap hari pakai (jas),” lanjutnya.
Agus menambahkan, ia mulai rutin mengenakan jas setiap hari baru sekitar satu minggu terakhir. “Ada 2 bulan yang lalu lah. Tapi kalau yang pakai tiap hari baru 1 minggu ini aja,” katanya.
Dikira Paspampres hingga Intel
Penampilan tak biasa ini tentu saja mengundang berbagai reaksi dari para pembeli. Agus mengaku sering mendengar celetukan lucu dari mereka. “Ini lagi nyamar ya Intel ya? Paspampres. Bukan saya mah asli tukang lumpia,” kenang Agus, menirukan perkataan pembelinya.
Pakaian formal yang dikenakannya sebagian dibeli sendiri, sementara beberapa lainnya merupakan pemberian. “Pakaiannya ada yang satu dikasih, kalau yang lain beli,” jelasnya.
Sebelum menjadi pedagang lumpia basah selama 14 tahun terakhir, Agus memiliki profesi yang berbeda. “Dulu jadi sopir, sopir mobil boks. Oh, sopir mobil boks. Sekarang mah ya jadi pedagang kaki lima gini lah, alhamdulillah,” ungkapnya.
Omzet Melonjak Dua Kali Lipat
Gaya berpakaian Agus yang unik ternyata membawa dampak positif signifikan pada penjualannya. Satu porsi lumpia basah ia jual seharga Rp 12.000. Jika sebelumnya ia hanya mampu menjual sekitar 100 porsi dalam sehari, kini angkanya melonjak drastis.
“Untuk sekarang ya, malu sih ini, segini lah 200,” kata Agus, merujuk pada peningkatan penjualan hingga dua kali lipat. Menurut Mureks, fenomena ini menunjukkan bagaimana inovasi dalam presentasi diri dapat secara langsung memengaruhi daya tarik konsumen dan volume penjualan.
Agus mengakui bahwa penampilannya yang formal membuat banyak pembeli lebih tertarik. “Berpengaruh sama penjualannya terus pelanggan tuh pada senang. Cuma ada yang bilang kok jadi begini sih mang? Dulu kan enggak begini,” ujarnya.
Tak jarang, pembeli juga antusias untuk berinteraksi lebih jauh. “Yang paling berkesan buat saya mereka tuh minta foto, minta video bareng. Aduh, malu pokoknya,” kata Agus, tersipu.
Sempat Malu dan Diejek
Meski kini menikmati hasil dari gaya uniknya, Agus mengaku awalnya sempat merasa malu dan bahkan mendapat ejekan. “Malu bahkan dibilang apa sih ikut-ikutan kayak gitu katanya. Tapi dalam hati saya enggak apa-apalah yang penting mah jualannya kelihatan rapi dan bersih gitu ya,” tuturnya.
Ia bahkan sempat ingin menyerah mengenakan jas. Namun, dukungan dari teman-temannya menjadi penyemangat. “Saya udah nyerah pakai jas itu enggak mau. Cuma teman-teman yang lainnya ngasih support semangat yang tiga orang itu,” pungkas Agus.






