Saat kanak-kanak, tidur siang seringkali menjadi kegiatan yang dihindari, digantikan oleh dunia permainan yang tak ada habisnya. Namun, bagi banyak orang dewasa di usia produktif, tidur tanpa beban, tanpa alarm, dan tanpa memikirkan tuntutan hidup justru menjadi kemewahan yang sulit didapatkan.
Bayangan masa kecil tentang kebebasan mutlak di usia dewasa kini berbenturan dengan realitas. Kebebasan yang diidamkan ternyata datang bersamaan dengan serangkaian tanggung jawab, tuntutan, dan tekanan sosial yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pada titik inilah, banyak yang menyadari bahwa tumbuh dewasa tidak seindah imajinasi masa kecil.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Ilusi Kebebasan dan Kekuasaan Orang Dewasa
Ketika masih kanak-kanak, orang dewasa seringkali dipandang sebagai sosok yang paling berkuasa atas hidupnya. Mereka bisa bepergian tanpa izin, tidak terikat jadwal tidur ketat, dan mampu membeli apa pun yang diinginkan. Dunia dewasa kala itu tampak sederhana: bekerja, menghasilkan uang, lalu menikmati hidup nyaman selamanya. Hampir tidak pernah terlintas dalam benak anak-anak tentang tekanan dan potensi kegagalan yang akan membayangi fase kehidupan tersebut.
Mimpi-mimpi besar seperti menjadi dokter atau astronaut, yang dulu terasa begitu dekat dan mudah digapai, kini seringkali terasa semakin jauh. Realitas seperti kondisi ekonomi atau tuntutan sosial lainnya kerap menutupi impian tersebut, memunculkan pertanyaan mendasar: “Apakah saya masih layak untuk bermimpi seperti itu?”
Harga dari kebebasan di masa dewasa, yang meliputi tanggung jawab pribadi, tekanan sosial, dan tuntutan pendidikan, tidak pernah masuk dalam bayangan masa kecil. Konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil kini sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu. Mureks mencatat bahwa kesadaran ini seringkali datang saat seseorang beranjak dewasa, menyadari bahwa realitas kehidupan jauh berbeda dari imajinasi yang dibangun saat kecil.
Realitas Dewasa yang Menguras Energi dan Mental
Dunia dewasa tak hanya diwarnai kebebasan, tetapi juga tekanan sosial, tuntutan pendidikan tinggi, kompleksitas karier, relasi yang rumit, serta keharusan untuk selalu terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain. Seringkali, individu dewasa dituntut untuk selalu kuat, rasional, dan sabar, bahkan ketika batin mereka sedang lelah dan tidak dalam kondisi prima. Ruang untuk mengeluh atau sekadar berhenti sejenak dari perjuangan terasa sangat terbatas.
Fenomena kelelahan ekstrem atau burnout pada usia produktif ini juga didukung oleh temuan ilmiah. Sebuah studi kesehatan masyarakat yang melibatkan 4.338 pekerja dewasa berusia 18-65 tahun di Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, mengungkapkan data mengejutkan. Studi tersebut menunjukkan bahwa sekitar 62,91% responden mengalami tingkat burnout yang tinggi hingga sangat tinggi. Menurut studi tersebut, burnout ini erat kaitannya dengan tekanan kerja, tuntutan ekonomi, serta peningkatan risiko stres, kecemasan, dan depresi pada kelompok usia tersebut.
Di tengah rutinitas yang menguras energi, kenangan masa kecil seringkali muncul tanpa diundang. Momen sederhana seperti melihat foto lama, melewati tempat wisata keluarga, atau mengingat kebersamaan dengan orang tua, dapat memicu rasa rindu yang mendalam. Kerinduan ini bukan berarti kehidupan dewasa sepenuhnya buruk, melainkan refleksi dari kelelahan yang mendera, sebuah keinginan untuk kembali ke masa di mana hidup terasa lebih menyenangkan dan aman.
Bukan Sekadar Mainan, Melainkan Ketenangan
Kerinduan akan masa kecil ternyata bukan hanya tentang mainan, tidur siang, atau libur panjang. Lebih dari itu, yang dirindukan adalah perasaan tenang dan aman. Masa di mana seseorang boleh melakukan kesalahan tanpa takut dicap gagal, boleh menangis tanpa sebab yang jelas, dan boleh bergantung pada orang lain tanpa dibebani rasa bersalah.
Anak-anak seringkali diberi ruang yang luas untuk menunjukkan kerapuhan mereka; ketika jatuh, ada tangan yang siap membantu bangkit. Namun, pertanyaan muncul, mengapa saat dewasa, ketika seseorang terjatuh, tuntutan untuk “kuat” lebih sering terdengar daripada upaya untuk memahami apa yang sebenarnya dialami?
Pada akhirnya, kesadaran muncul bahwa yang dibutuhkan bukanlah kembali menjadi anak kecil, melainkan harapan untuk menemukan kembali fase kehidupan yang tenang. Sebuah kehidupan tanpa dikejar-kejar oleh bayang-bayang pencapaian karier, target masa depan, atau tuntutan sosial untuk segera menjadi “sesuatu” yang seringkali tidak mudah untuk diwujudkan.






