Jakarta, Mureks – Kebakaran dahsyat yang melanda bar populer Le Constellation di kota resor ski mewah Crans-Montana, Swiss, saat pesta malam tahun baru 2025-2026 menewaskan 40 orang dan melukai 115 lainnya. Jaksa Agung Kanton Valais, Béatrice Pilloud, menduga fenomena “flashover” menjadi pemicu utama insiden tragis tersebut.
Insiden mematikan ini terjadi kala bar Le Constellation dipadati pengunjung yang merayakan pergantian tahun. Komandan Polisi Kanton Valais, Frédéric Gisler, menuturkan asap pertama kali terlihat sekitar pukul 01.30 waktu setempat. Tak lama kemudian, laporan kebakaran diterima pusat panggilan darurat.
Artikel informatif lainnya dapat ditemukan dalam liputan Mureks. mureks.co.id
Gisler menjelaskan, peringatan merah segera dikeluarkan untuk memobilisasi dinas pemadam kebakaran. Saksi mata di lokasi kejadian menyebutkan kebakaran itu dipicu sebuah ledakan yang belum jelas asalnya.
Pihak berwenang Swiss mengerahkan 10 helikopter, 40 ambulans, dan 150 tenaga medis ke lokasi kejadian. Gisler mengonfirmasi jumlah korban jiwa dan luka.
“Sekitar 40 orang tewas dalam kebakaran tersebut dan 115 lainnya terluka, banyak di antaranya dalam kondisi parah.”
Pernyataan Gisler tersebut dikutip dari CNN. Kedutaan Besar Inggris di Swiss juga menyatakan kemungkinan banyak warga asing menjadi korban dalam insiden ini, mengingat Crans-Montana merupakan kawasan resor ski mewah yang populer di kalangan turis internasional.
Bar Le Constellation, yang berada di dalam kawasan resor ski mewah Crans-Montana, memiliki kapasitas 300 orang dengan tambahan ruang teras untuk 40 orang, berdasarkan keterangan di situs resmi resor. Hingga kini, belum jelas bagian mana dari bar yang paling terdampak kebakaran. Crans-Montana sendiri dikenal sebagai salah satu kawasan paling eksklusif di Swiss, dengan sinar matahari sepanjang tahun dan ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut.
Dugaan Penyebab Kebakaran: Fenomena Flashover
Meskipun penyebab pasti kebakaran dan ledakan masih dalam penyelidikan, Jaksa Agung Kanton Valais, Béatrice Pilloud, dalam konferensi pers di Bern, mengemukakan dugaan kuat mengenai fenomena “flashover” sebagai faktor utama.
Pilloud menjelaskan bahwa kronologi pasti kejadian masih belum jelas. Namun, tim penyelidik mendalami kemungkinan terjadinya flashover, yaitu kondisi ketika hampir seluruh bagian di dalam sebuah ruangan terbakar secara hampir bersamaan.
“Masih banyak hal yang perlu diklarifikasi, dan sejumlah hipotesis telah diajukan. Teori utama yang kami prioritaskan adalah terjadinya flashover yang memicu ledakan cepat. Sejumlah saksi telah dimintai keterangan, dan beberapa telepon genggam yang ditemukan telah diamankan untuk dianalisis.”
Pernyataan Pilloud ini menunjukkan fokus penyelidikan saat ini, menurut Mureks.
Menurut National Fire Protection Association (NFPA), flashover terjadi ketika gas panas naik ke langit-langit dan menyebar ke seluruh dinding ruangan. Panas yang terus meningkat menyebabkan seluruh material yang mudah terbakar di dalam ruangan mencapai titik nyala dan terbakar secara serentak.
Steve Kerber, Wakil Presiden sekaligus Direktur Eksekutif Fire Safety Research Institute, menjelaskan dampak mematikan dari fenomena ini.
“Flashover adalah kondisi ketika bukan lagi benda-benda di dalam ruangan yang terbakar. Ruangannya sendiri yang terbakar.”
Kerber menambahkan, ketika suhu melonjak hingga mencapai sekitar 1.000 derajat Fahrenheit (sekitar 538 derajat Celsius), bahkan petugas pemadam kebakaran yang mengenakan perlengkapan pelindung lengkap pun kecil kemungkinannya untuk selamat.
“Bayangkan seluruh langit-langit menyebarkan api dengan sangat cepat. Energi panas yang dihasilkan dari langit-langit itu turun dan mengenai semua benda yang mudah terbakar di seluruh fasilitas.”
“Hampir semua benda terbakar dalam waktu yang sangat singkat, lalu seluruh ruangan diselimuti api, kondisi yang tidak mungkin untuk bertahan hidup.”
Penjelasan Kerber ini menggarisbawahi betapa cepat dan mematikannya kondisi flashover, yang diduga menjadi penyebab utama tragedi di Crans-Montana.






