Jakarta, Mureks – Realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sepanjang tahun 2025 tercatat lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa capaian tersebut merupakan konsekuensi langsung dari perubahan skema distribusi yang mulai diterapkan pada tahun ini.
Rizal merinci, total penyaluran beras SPHP sepanjang 2025 hanya mencapai 802.939 ton, atau tidak sampai satu juta ton. Angka ini, menurutnya, terlihat lebih kecil karena mekanisme distribusi kini tidak lagi disalurkan langsung ke grosir seperti sebelumnya.
Artikel informatif lainnya dapat dibaca di Mureks mureks.co.id.
Perubahan Skema Distribusi untuk Kualitas dan Harga
Perubahan skema distribusi ini dilakukan untuk memastikan kualitas dan harga beras SPHP tetap terjaga hingga ke tangan masyarakat. Rizal menjelaskan dampak dari skema lama yang berpotensi menimbulkan masalah.
“Penyaluran SPHP beras total di tahun 2025 ini adalah 802.939 ton. Nah ini juga penyaluran SPHP ini khusus di tahun ini agak berbeda. Kalau dulu penyaluran SPHP itu kan langsung diserahkan ke grosir-grosir, sehingga capaiannya lebih besar. Namun dampak dari yang tahun lalu-lalu itu berasnya dioplos. Nah sedangkan sekarang tidak diserahkan langsung ke grosir-grosir, tapi dari Bulog langsung ke para pengecer sampai dengan ritel-ritel yang ada di lapangan, yang terdepan. Sehingga memotong jalur-jalur distribusi 1 dan distribusi 2,” ujar Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, pada Jumat (2/1/2026).
Ia menegaskan, pemotongan rantai distribusi ini bertujuan untuk menjaga integritas produk dan stabilitas harga. “Tujuannya apa? untuk memastikan beras itu yang pertama tidak dioplos, yang kedua beras itu betul-betul murah dan tidak dimainkan,” tegasnya.
Penyaluran Jagung SPHP Respons Kenaikan Harga
Selain beras, Bulog juga melakukan penyaluran SPHP untuk komoditas jagung. Hingga akhir 2025, penyaluran jagung SPHP tercatat sebesar 51.211 ton yang direalisasikan dalam kurun waktu dua bulan.
“Kemudian yang berikutnya, penyaluran SPHP jagung, total sampai dengan tahun 2025 kemarin adalah 51.211 ton. Ini dalam 2 bulan,” kata Rizal.
Penyaluran jagung SPHP ini merupakan respons atas kenaikan harga jagung di pasaran, khususnya untuk kebutuhan pakan ternak. Rizal menyebut, langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan pemerintah agar harga pakan lebih terjangkau bagi peternak.
“Ini karena kemarin sempat harga jagung agak naik di pasaran, khususnya untuk pakan-pakan ternak. Sesuai perintah Bapak Kepala Bapanas, dari Bapak Menteri Pertanian, Bapak Menko Pangan, Bulog diperintahkan untuk menyalurkan SPHP jagung juga, supaya para peternak bisa membeli jagung-jagung untuk pakan ternak yang lebih murah,” pungkasnya.
Perbandingan Realisasi SPHP Beras Tahun-tahun Sebelumnya
Mureks mencatat bahwa realisasi SPHP beras dalam empat tahun terakhir menunjukkan rata-rata penyaluran berada di atas 1 juta ton per tahun. Pada tahun 2022, tersalurkan 1,3 juta ton. Angka ini meningkat pada tahun 2023 menjadi 1,196 juta ton atau 110,30% dari target 1,085 juta ton. Sementara itu, pada tahun 2024, SPHP beras kembali tercapai 1,401 juta ton atau 100,12% dari target 1,4 juta ton.






