Presiden Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) Gianni Infantino menuai gelombang kritik tajam dari komunitas penggemar sepak bola global. Pernyataan kontroversialnya mengenai peran FIFA dalam keberlangsungan olahraga ini dinilai telah menyakiti hati suporter, terutama di Skotlandia, yang merasa organisasi tersebut semakin jauh dari realitas penggemar.
Kontroversi ini bermula ketika Infantino berargumen bahwa tanpa FIFA, sepak bola tidak akan eksis di 150 negara di dunia. Pernyataan tersebut ia sampaikan sebagai pembelaan atas kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap sangat mahal dan eksploitatif oleh banyak penggemar. Kebijakan harga tiket Piala Dunia 2026 memang telah memicu protes luas, dengan banyak pihak menilai lonjakan harga tidak sebanding dengan aksesibilitas bagi para penggemar.
Mureks juga menyajikan berbagai artikel informatif terkait. mureks.co.id
Alih-alih merespons kritik dengan refleksi, Infantino justru menegaskan klaimnya. “Tanpa FIFA, tidak akan ada sepak bola di 150 negara di dunia. Sepak bola ada karena, dan berkat, pendapatan yang kami hasilkan dari Piala Dunia, yang kami investasikan kembali ke seluruh dunia,” ujar Infantino dalam sebuah forum di Dubai.
Pernyataan tersebut sontak menuai respons keras. Salah satunya datang dari Paul Goodwin, pendiri Scottish Football Supporters Association. Menurut Goodwin, klaim Infantino merupakan bentuk arogansi dan bukti nyata bahwa FIFA telah kehilangan koneksi dengan para penggemar.
Goodwin menegaskan bahwa sepak bola bukanlah ciptaan FIFA dan akan selalu menemukan jalannya sendiri tanpa klaim kepemilikan dari satu organisasi. Ia menilai pernyataan Infantino merendahkan sejarah panjang sepak bola yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum FIFA berdiri.
“Ini menghina semua negara di dunia jika mengatakan tanpa FIFA tidak akan ada sepak bola. Banyak penggemar melihat FIFA sebagai organisasi yang hanya berorientasi pada uang,” kata Goodwin, menyoroti persepsi publik terhadap FIFA.
Ia juga menyoroti dampak langsung kebijakan FIFA terhadap penggemar, termasuk suporter Skotlandia yang terpaksa berutang demi mendukung tim nasional mereka di Piala Dunia. Mureks mencatat bahwa tekanan finansial ini menjadi beban berat bagi banyak penggemar setia.
Meski mengakui sebagian dana FIFA digunakan untuk program positif, Goodwin mempertanyakan transparansi alokasi dana tersebut. “Tidak diragukan ada uang yang digunakan untuk hal baik, tapi kita tidak pernah tahu seberapa besar yang benar-benar sampai ke sepak bola akar rumput,” ujarnya.
Kemarahan penggemar semakin memuncak setelah harga tiket Piala Dunia 2026 diumumkan jauh lebih mahal dibandingkan edisi sebelumnya. Untuk pertandingan fase grup yang melibatkan Skotlandia, harga tiket disebut mencapai tiga kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022. Bahkan, tiket termurah untuk laga final dikabarkan menyentuh angka 3.129 pound, membuat banyak penggemar merasa tersingkir secara ekonomi.
Goodwin menilai situasi ini sebagai bukti dominasi dan monopoli FIFA yang semakin sulit dilawan. Ia menyoroti kurangnya transparansi, minimnya komunikasi, serta ketertutupan FIFA terhadap suara penggemar. “Tidak ada rem tangan, tidak ada yang bisa memperlambat laju ini. Harga tiket Piala Dunia menjadi bukti bahwa uang adalah raja bagi FIFA,” tegasnya.
FIFA memang menawarkan tiket murah seharga 45 pound, namun jumlahnya disebut sangat terbatas, hanya sekitar 10 persen dari total alokasi. Untuk penggemar Skotlandia, jumlah tiket murah itu bahkan diperkirakan kurang dari 400 lembar, semakin memperparah kesulitan akses.
Tekanan finansial juga diperparah dengan biaya akomodasi yang melonjak. Goodwin mengungkapkan kisah penggemar yang ditawari paket hotel enam malam di Boston dengan harga mencapai 6.000 pound, sebuah angka yang dinilainya tidak masuk akal dan di luar jangkauan mayoritas suporter.






