Grayscale, perusahaan manajemen aset kripto terbesar di dunia, merilis evaluasi kinerja pasar kripto pada kuartal keempat 2025. Laporan tersebut menyoroti periode ini sebagai fase stagnasi, meskipun ada peluang kenaikan harga signifikan untuk Bitcoin (BTC) dan altcoin pada 2026.
Dalam tinjauannya, Grayscale mencatat bahwa imbal hasil pasar kripto cenderung negatif sepanjang kuartal keempat 2025. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal ketiga 2025 yang sebelumnya mencatatkan keuntungan di hampir semua kategori aset digital.
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Menariknya, di tengah fase stagnasi tersebut, Grayscale menyoroti altcoin yang berfokus pada privasi justru tampil menonjol. Berdasarkan evaluasi kinerja, Grayscale merilis daftar 20 altcoin dengan performa terbaik, yang didominasi oleh aset-aset tersebut:
- Zcash (ZEC)
- Monero (XMR)
- Alchemist AI (ALCH)
- Just (JST)
- Dash (DASH)
- Hive (HIVE)
- Basic Attention Token (BAT)
- Beldex (BDX)
- Origin Trail (TRAC)
- Bitcoin Cash (BCH)
- Decred (DCR)
- Telcoin (TEL)
- Echelon Prime (PRIME)
- Golem (GLM)
- Chiliz (CHZ)
- Maker (SKY)
- ULTIMA Venice Token (VVV)
- Maple Finance (SYRUP)
- Uniswap (UNI)
Meskipun masuk dalam jajaran altcoin berkinerja tinggi, Grayscale menegaskan bahwa seluruh aset dalam daftar Top 20 tersebut memiliki volatilitas harga yang tinggi. Oleh karena itu, perusahaan mengingatkan investor agar lebih berhati-hati.
Menurut Grayscale, altcoin-altcoin tersebut tetap tergolong aset berisiko tinggi. Strategi manajemen risiko menjadi hal penting bagi investor, terutama di tengah ketidakpastian arah pasar kripto ke depan.
Kinerja Bitcoin Dibanding Emas dan Perak pada 2025
Di sisi lain, klaim bahwa Bitcoin mampu mengungguli emas dan perak dalam hal imbal hasil selama satu dekade terakhir kini dipertanyakan. Data terbaru justru menunjukkan hasil sebaliknya, terutama pada 2025, ketika kinerja Bitcoin tertinggal dari dua logam mulia tersebut.
Kondisi ini berpotensi memengaruhi sentimen investor, seiring aset kripto menghadapi tantangan serius dari instrumen investasi tradisional yang dinilai lebih stabil. Sepanjang 2025, Bitcoin mengalami pelemahan harga, sementara emas dan perak mencatat lonjakan signifikan di tengah perubahan ekonomi global.
Meski harga Bitcoin turun, minat institusi besar belum sepenuhnya surut, seperti yang dilaporkan BlackRock yang masih mencatat arus dana masuk signifikan. Namun, bank sentral Rusia, India, dan Arab Saudi justru menambah kepemilikan emas dan perak, mencerminkan pergeseran strategi investasi berbasis komoditas.
Perhatian Investor Beralih ke Aset Komoditas
Kinerja kuat emas dan perak menarik perhatian investor global dan memengaruhi dinamika pasar. Pelemahan Bitcoin dinilai mencerminkan ketidakpastian ekonomi yang lebih luas, sekaligus pergeseran minat investor ke aset berbasis komoditas.
Reli harga emas dan perak juga berdampak pada persepsi Bitcoin sebagai penyimpan nilai (store of value). Tren terbaru menegaskan bahwa logam mulia tradisional kembali dipandang sebagai aset andalan di tengah kondisi ekonomi yang bergejolak.
Data jangka pendek menunjukkan volatilitas pasar kripto masih tinggi, kontras dengan stabilitas relatif yang ditawarkan emas dan perak. Tren penurunan Bitcoin turut mendorong minat baru terhadap aset yang dinilai lebih aman.
Seiring berkembangnya kerangka regulasi untuk aset tradisional maupun digital, potensi pergeseran strategi keuangan semakin terlihat. Secara historis, kondisi inflasi yang meningkat kerap mendorong investor melakukan diversifikasi portofolio, dengan logam mulia menjadi pilihan utama dibanding aset digital.
“Bitcoin turun sekitar 8–9,6% sejak awal tahun hingga akhir Desember 2025, diperdagangkan di kisaran USD 87.498, atau turun sekitar 30% dari puncaknya di USD 126.000,” demikian kutipan laporan pasar terbaru yang menyoroti performa aset digital tersebut.






