Manchester United menutup paruh pertama Premier League musim 2025/2026 dengan menempati posisi keenam klasemen. Catatan delapan kemenangan, lima kekalahan, dan enam hasil imbang menunjukkan bahwa stabilitas performa tim asuhan Ruben Amorim belum sepenuhnya berbuah maksimal. Enam kali kegagalan mempertahankan keunggulan 1-0 menjadi salah satu alasan utama Setan Merah tertahan di luar zona Liga Champions.
Dengan peluang meraih trofi praktis hanya tersisa di Piala FA, di mana mereka akan menjamu Brighton pada putaran ketiga, muncul kekhawatiran bahwa musim ini bisa berakhir tanpa gelar. Jika skenario tersebut terjadi, Manchester United akan mencatatkan musim nir-trofi paling awal sejak tahun 1988. Di tengah situasi ini, performa individu para pemain menjadi sorotan tajam.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Paruh musim ini menggambarkan Manchester United yang berada di antara harapan dan realita. Fondasi tim mulai terbentuk di bawah arahan Ruben Amorim, namun Mureks mencatat bahwa lubang besar masih terlihat di beberapa sektor kunci. Dengan jadwal padat dan tekanan tinggi di paruh kedua musim, konsistensi dan ketajaman para pemain akan sangat menentukan apakah United mampu menyelamatkan musim, atau kembali menelan pil pahit tanpa trofi.
Kiper
- Senne Lammens – 8: Kiper muda ini tampil meyakinkan sejak dipercaya sebagai starter. Refleks tajam dan ketenangan saat ditekan membuat United jarang kebobolan karena kesalahan sendiri. Nilai transfer yang masuk akal membuat performanya terasa semakin impresif.
- Altay Bayindir – 3: Kesempatan emas gagal dimanfaatkan. Serangkaian blunder membuatnya kehilangan kepercayaan pelatih dan publik. Penampilannya justru menimbulkan keraguan di sektor penjaga gawang.
Bek
- Diogo Dalot – 5: Sempat melewati periode terburuknya bersama United. Performa membaik setelah mendapat kritik langsung dari Amorim, tetapi kontribusinya sepanjang paruh musim masih tergolong biasa.
- Noussair Mazraoui – 4: Cedera dan tugas internasional membuat musim keduanya terganggu. Fleksibilitas posisi memang membantu, namun perannya kini lebih sering sebagai pelapis.
- Harry Maguire – 5: Cedera panjang membatasi kontribusinya. Meski demikian, gol-gol krusial di laga besar tetap membuat namanya dikenang fans United musim ini.
- Matthijs de Ligt – 6: Bek paling konsisten sebelum cedera punggung. Kehadirannya terasa saat absen, termasuk gol penting yang menyelamatkan United dari kekalahan.
- Lisandro Martinez – 6: Baru kembali dari cedera panjang, namun langsung menunjukkan jiwa pemimpin. Diprediksi bakal menjadi pilihan utama jika kebugaran terjaga.
- Ayden Heaven – 6: Awalnya kesulitan dan kerap menjadi titik lemah, tetapi perlahan bangkit. Penampilan solid di beberapa laga terakhir menaikkan nilainya.
- Leny Yoro – 5: Sempat mencuri perhatian di awal musim, namun rotasi membuat ritmenya terganggu. Konsistensi masih menjadi pekerjaan rumah.
- Luke Shaw – 7: Ironisnya, pemain yang dikenal rentan cedera justru tampil paling stabil. Perannya di bek tengah maupun kiri sangat vital bagi skema Amorim.
- Patrick Dorgu – 4: Mulai menunjukkan peningkatan setelah kritik keras pelatih. Namun performa buruk di awal musim menurunkan nilai keseluruhan.
Gelandang
- Bruno Fernandes – 8: Jantung permainan United. Kreativitas, visi, dan kepemimpinannya membuatnya tetap menjadi pemain paling berpengaruh di skuad.
- Casemiro – 6: Masih berguna lewat pengalaman dan gol-gol penting. Namun usia mulai memengaruhi agresivitas dan konsistensi permainannya.
- Manuel Ugarte – 3: Belum memberi dampak signifikan. Adaptasi dengan sistem Amorim berjalan lambat, bahkan kerap dikaitkan dengan hasil negatif tim.
- Kobbie Mainoo – 3: Kesempatan bermain minim dan gagal dimanfaatkan. Cedera serta isu di luar lapangan turut memengaruhi penilaiannya.
Penyerang
- Mason Mount – 7: Saat fit, selalu memberi dampak positif. Kontribusi gol dan etos kerja tinggi membuatnya perlahan menepis “kutukan nomor 7” di Old Trafford.
- Bryan Mbeumo – 7: Top skor tim sejauh ini. Kolaborasinya dengan Amad di sisi kanan menjadi senjata paling berbahaya United.
- Matheus Cunha – 6: Tampil menonjol di laga besar dan cepat merebut hati fans. Sayangnya, produktivitas gol belum sebanding dengan kualitas permainannya.
- Amad – 7: Lebih dari sekadar statistik gol. Konsistensinya di sisi kanan dan chemistry dengan Mbeumo menjadikannya aset penting sebelum berangkat ke AFCON.
- Benjamin Sesko – 3: Produktivitas jauh dari harapan untuk striker berharga mahal. Kegagalan memaksimalkan peluang menjadi sorotan utama.
- Joshua Zirkzee – 3: Kerja keras tak sebanding dengan dampak di lapangan. Masa “pemain favorit dadakan” telah berlalu dan masa depannya di United dipertanyakan.






