Selama satu dekade terakhir, persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah meluas dari arena militer dan perdagangan ke ranah teknologi, khususnya infrastruktur digital global. Dalam konteks ini, Huawei, perusahaan teknologi raksasa asal Tiongkok, telah muncul sebagai aset krusial bagi Beijing dalam membangun pengaruhnya di seluruh dunia.
Dominasi Huawei di Jaringan Digital Global
Huawei bukan sekadar produsen gawai. Perusahaan ini adalah penyedia tulang punggung digital yang esensial, mencakup jaringan 4G dan 5G, kabel serat optik, hingga pusat data. Infrastruktur ini menopang ekonomi digital, komunikasi, dan sistem keamanan berbagai negara, menjadikannya titik irisan penting antara kepentingan strategis Tiongkok dan kekhawatiran Amerika Serikat.
Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.
Kekuatan Huawei terletak pada kemampuannya menguasai lapisan infrastruktur paling dasar dari sistem digital global. Infrastruktur semacam ini bersifat jangka panjang, mahal untuk diganti, dan menciptakan ketergantungan struktural bagi negara pengguna. Terlebih lagi, harga yang ditawarkan Huawei sangat kompetitif dibandingkan kompetitor sejenis seperti Nokia, Ericsson, dan Samsung.
Ekspansi Global dan Digital Silk Road
Huawei berhasil menancapkan pengaruhnya secara signifikan di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin. Kawasan-kawasan ini seringkali memiliki keterbatasan pendanaan, kebutuhan konektivitas yang tinggi, serta minimnya alternatif vendor Barat yang kompetitif secara harga. Di banyak negara, Huawei hadir bukan hanya sebagai pemasok teknologi, tetapi juga sebagai mitra pembangunan nasional.
Dominasi ini tidak terlepas dari keterkaitannya dengan inisiatif Belt and Road Initiative (BRI), khususnya pada Digital Silk Road. BRI menyediakan payung geopolitik dan finansial yang luas bagi ekspansi perusahaan teknologi Tiongkok ke luar negeri. Dalam kerangka ini, Huawei menjadi aktor kunci dalam pembangunan jaringan digital lintas negara.
Digital Silk Road, mulai dari jaringan 5G, kabel serat optik lintas batas, hingga sistem kota pintar (smart city), sering kali mengadopsi teknologi Huawei sebagai standar utama. Dengan demikian, BRI tidak hanya membangun infrastruktur fisik seperti pelabuhan dan jalan, tetapi juga arsitektur digital yang mengikat negara-negara mitra ke ekosistem teknologi Tiongkok. Mureks mencatat bahwa infrastruktur digital, meski relatif cepat dibangun, memiliki dampak yang lebih dalam karena membentuk aliran data dan tata kelola informasi global.
Kekhawatiran Amerika Serikat dan Respons Global
Amerika Serikat memandang Huawei bukan sekadar persaingan bisnis, melainkan isu keamanan nasional dan kepemimpinan teknologi global. Infrastruktur digital yang dikuasai Huawei dapat menjadi penopang kecerdasan buatan, sistem militer, logistik, dan ekonomi digital. Menguasai infrastruktur ini berarti memiliki pengaruh signifikan terhadap seluruh ekosistem di atasnya.
Meskipun bukti publik mengenai penyalahgunaan teknologi Huawei masih menjadi perdebatan, bagi AS, potensi risiko saja sudah cukup untuk membenarkan kebijakan pembatasan. Washington berusaha menghalau kemajuan Huawei melalui pelarangan penggunaan perangkat di jaringan domestik, pembatasan akses terhadap semikonduktor canggih, serta mendorong sekutu untuk memilih vendor alternatif.
Namun, upaya AS ini tidak selalu berhasil, terutama di negara-negara berkembang. Bagi banyak negara ini, pilihan terhadap Huawei adalah keputusan pragmatis yang didasari kebutuhan pembangunan, bukan semata dukungan ideologis kepada Beijing. Hasil dari pilihan tersebut adalah semakin luasnya pengaruh struktural Tiongkok dalam sistem digital global.
Melalui dominasi infrastruktur digital dan integrasinya dengan BRI, Huawei telah menjadi salah satu instrumen paling efektif bagi Tiongkok dalam menghadapi Amerika Serikat. Ini bukan melalui perang terbuka, melainkan lewat pembangunan jaringan yang mengikat dunia ke standar teknologi Tiongkok.






