Densus 88 Antiteror Polri berhasil mengungkap sebuah video yang memperlihatkan seorang siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Jawa Tengah tengah melakukan simulasi kekerasan. Dalam video tersebut, siswa itu menggunakan pistol replika dan tampak memahami cara mengoperasikannya, mulai dari mengokang hingga menodongkannya ke arah temannya.
Juru Bicara Densus 88, Kombes Myandra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa temuan ini mengindikasikan adanya perencanaan serius. “Jadi itu adalah adegan dari salah satu anak yang ada di Jawa Tengah. Yang bersangkutan, sebelum memulai aksi, melakukan simulasi terlebih dahulu sebagai gambaran ketika akan melakukan aksinya. Yang bersangkutan sudah bisa merencanakan,” kata Kombes Myandra di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (7/1).
Temukan artikel informatif lainnya melalui Mureks. mureks.co.id
Menurut Myandra, siswa tersebut memiliki keinginan kuat untuk menjadi pelopor aksi kekerasan di wilayahnya. Inspirasi utamanya datang dari sebuah grup media sosial bernama True Crime Community (TCC).
“Dan ini juga menjadi keinginan yang bersangkutan untuk menjadi pemicu atau pelopor dari kekerasan yang dilakukan atas nama TCC,” tambahnya.
Dalam sesi wawancara yang dilakukan oleh Densus 88, terungkap bahwa siswa tersebut masih menyimpan keinginan untuk melancarkan aksinya. Ia juga mengakui pernah membawa senjata tajam ke lingkungan sekolah. Lebih lanjut, anak ini terdeteksi memiliki koneksi internasional dengan Barber Nationalist Third Positionist Group (BNTG), sebuah kelompok ekstrem kanan yang berbasis di Prancis.
“Kemudian, pascaintervensi, yang bersangkutan masih tetap ingin melakukan kekerasan tersebut. Ia pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional, terdeteksi dengan REDA, pendiri kelompok BNTG di Prancis, yaitu Barber Nationalist Third Positionist Group,” jelas Kombes Myandra.
Ia menambahkan, “Ini merupakan gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, yang berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis.”
Mureks mencatat bahwa True Crime Community (TCC) sendiri diketahui memiliki 27 grup chat jejaring di berbagai platform media sosial. Anggota grup ini, yang mayoritas adalah anak-anak, disebut berasal dari latar belakang yang rentan, seperti korban perundungan, korban perceraian orang tua, hingga mereka yang kurang mendapatkan perhatian dari keluarga.
Referensi penulisan: m.kumparan.com






