Keuangan

Bulog Pangkas Penyaluran Beras SPHP di Daerah Sentra Produksi untuk Stabilisasi Stok

Perum Bulog mengumumkan kebijakan baru terkait penyaluran beras Stabilisasi Harga dan Pasokan Pangan (SPHP) mulai tahun 2026. Penyaluran beras murah ini akan dikurangi secara signifikan di daerah-daerah sentra produksi beras.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa langkah strategis ini diambil untuk mencegah kelebihan pasokan di wilayah penghasil beras, sekaligus memastikan ketersediaan stok di daerah lain yang membutuhkan. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Bulog untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan nasional.

Artikel informatif lainnya tersedia di Mureks melalui laman mureks.co.id.

Untuk tahun 2026, Bulog menargetkan penyaluran beras SPHP sebanyak 1,5 juta ton, yang akan didistribusikan sepanjang tahun. Angka ini sama dengan target penyaluran SPHP pada tahun 2025, namun Mureks mencatat bahwa realisasi penyaluran pada tahun sebelumnya hanya mencapai 802.939 ton.

“Nanti di saat musim panen di saat puncak musim panen bulan Maret dan bulan April termasuk bulan Agustus itu kita penyaluran di daerah-daerah sentra produksi, penyaluran SPHP-nya ini dikurangin dikecilkan volumenya. Tapi tetep dilakukan supaya tidak tidak tumpah banyak di pasaran. Tapi yang di daerah-daerah yang tidak sentra produksi pangan SPHP-nya tetep jalan seperti biasa,” ujar Rizal dalam media briefing Capaian Krusial Bulog 2025 dan Langkah Strategi 2026 di Kantor Bulog, Jakarta Selatan, Jumat (02/01/2026).

Selain penyesuaian volume, Bulog juga mengubah skema distribusi beras SPHP. Kini, penyaluran akan dilakukan langsung kepada pengecer dengan kemasan 5 kilogram, tidak lagi melalui distributor.

Perubahan ini, menurut Rizal, didasari pengalaman sebelumnya di mana beras SPHP yang disalurkan melalui distributor sering kali dioplos atau dikemas ulang, kemudian harganya dipermainkan di pasaran. “Kalau dulu penyaluran SPHP itu kan langsung diserahkan ke grosir-grosir sehingga capaiannya lebih besar. Namun impact dari yang tahun lalu-lalu itu berasnya di oplos. Sedangkan sekarang tidak diserahkan langsung ke grosir-grosir tapi dari Bulog langsung ke para pengecer sampai dengan ritel-ritel yang ada di lapangan yang terdepan sehingga memotong jalur-jalur distribusi 1 dan distribusi 2,” pungkasnya.

Mureks